Jakarta – Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital nasional, industri telekomunikasi Indonesia justru menghadapi tekanan serius. Sektor yang menjadi tulang punggung konektivitas digital nasional ini dinilai tengah mengalami penurunan kesehatan industri, sebuah kondisi yang mengemuka dalam forum Indonesia Digital Outlook 2026 yang diselenggarakan oleh TEKNOBUZZ ID bersama para mitra strategis.
Forum bertajuk “From Policy to Practice: Shaping Indonesia’s Digital Future” tersebut mempertemukan regulator, pelaku industri, akademisi, dan pengamat digital untuk membahas tantangan nyata yang dihadapi sektor telekomunikasi serta langkah strategis menyelamatkan masa depan transformasi digital Indonesia.
Daftar isi artikel berita
ToggleIndustri Telekomunikasi Hadapi Tekanan Berat
Ketua Penyelenggara Indonesia Digital Outlook 2026, Indra Khairuddin, menilai kondisi industri telekomunikasi saat ini berada dalam situasi yang tidak ideal. Ia menggambarkan industri tersebut seperti “terengah-engah” di tengah tuntutan pembangunan infrastruktur digital yang terus meningkat.
“Margin usaha semakin menipis, beban regulasi bertambah, sementara persaingan global tidak seimbang. Di sisi lain, kebutuhan investasi infrastruktur digital justru makin besar,” ujar Indra saat membuka diskusi di Habitate Jakarta.
Ia menekankan bahwa kebijakan pemerintah ke depan harus bersifat solutif dan adaptif. “Industri tidak membutuhkan regulasi yang hanya bagus di atas kertas, melainkan kebijakan yang memberikan insentif dan ruang tumbuh, bukan menambah beban,” tegasnya.
Paradoks Ekonomi Digital: Konsumsi Tinggi, Inovasi Tertinggal
Isu lain yang mengemuka adalah paradoks ekonomi digital Indonesia. Dyah Ayu, peneliti dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), mengungkapkan bahwa meskipun Indonesia menjadi salah satu pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, tingkat inovasi nasional masih tertinggal.
“Indonesia berada di peringkat 55 Global Innovation Index. Salah satu penyebab utamanya adalah minimnya investasi pada pendidikan dan riset, yang hanya sekitar 0,28 persen dari PDB,” jelas Dyah.
Menurutnya, tanpa fondasi kuat berupa konektivitas yang merata dan kualitas sumber daya manusia (SDM) digital, pengembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan kota pintar (Smart City) berisiko kehilangan relevansi.
Tahun 2026 Dinilai Jadi Momentum Krusial
Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL), Teguh Prasetya, menilai tahun 2026 akan menjadi fase krusial bagi industri telekomunikasi nasional. Hal ini seiring mulai meluasnya layanan 5G Fixed Wireless Access (FWA) serta meningkatnya persaingan layanan satelit orbit rendah (LEO).
Namun, Teguh mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tersebut akan sulit berkelanjutan jika kondisi industri tidak sehat. “Beban biaya spektrum dan regulasi yang kaku harus segera dievaluasi. Jika tidak, visi Indonesia Digital 2045 bisa terhambat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa industri telekomunikasi membutuhkan ruang bernapas agar mampu berinvestasi secara berkelanjutan dalam pembangunan infrastruktur digital masa depan.
Respons Pemerintah: Regulasi Menuju Pendekatan Adaptif
Menanggapi berbagai masukan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) menyatakan komitmennya untuk membangun ekosistem digital yang lebih adaptif. Sonny Hendra Sudaryana menjelaskan bahwa pemerintah mengusung pendekatan 6C Framework, meliputi Connectivity, Capital, Capability, Content, Culture, dan Catalysis.
“Kebijakan ke depan tidak hanya berfungsi sebagai pengatur, tetapi juga sebagai akselerator pertumbuhan ekonomi digital nasional,” kata Sonny. Ia juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan sebagai fondasi utama ekonomi digital berkelanjutan.
Konektivitas dan Data Center Tetap Jadi Pilar Utama
Di tengah tekanan industri, peran operator telekomunikasi dan pusat data dinilai semakin strategis. Merza Fachys dari Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menegaskan bahwa konektivitas tetap menjadi fondasi utama seluruh ekosistem digital.
“Tanpa jaringan yang andal, transformasi digital tidak akan berjalan,” ujarnya.
Sementara itu, Hendra Suryakusuma dari IDPRO menyebut bahwa data center merupakan jantung ekonomi digital Indonesia. Dengan proyeksi nilai ekonomi digital nasional mencapai US$350 miliar pada 2030, keberadaan pusat data menjadi elemen vital dalam mendukung pertumbuhan tersebut.
“Transformasi digital saat ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan,” pungkasnya.
Reformasi Regulasi Jadi Kunci Masa Depan Telekomunikasi
Forum Indonesia Digital Outlook 2026 menegaskan bahwa masa depan industri telekomunikasi Indonesia berada di persimpangan penting. Reformasi regulasi yang adaptif, kolaborasi erat antara pemerintah dan industri, serta penguatan fondasi konektivitas dan SDM digital menjadi langkah mendesak.
Tanpa upaya konkret, ambisi Indonesia Digital 2045 berpotensi menjadi sekadar wacana. Kebijakan publik diharapkan tidak hanya menuntut industri untuk terus berkembang, tetapi juga memastikan iklim usaha yang sehat dan berkelanjutan demi kepentingan seluruh masyarakat Indonesia.


