Militer Israel Pantau Tarawih Perdana Warga Palestina di Masjid Al-Aqsa  

blank

Koranindopos.com, PALESTINA – Di tengah tekanan politik dan ketegangan dengan Israel, ribuan warga Palestina tetap khusyuk menjalankan Salat Isya dan Tarawih perdana Ramadan 1447 Hijriah. Itu tampak dari sejumlah video dan foto yang beredar di media daring. Umat Muslim Palestina memadati Masjid Al-Aqsa meskipun militer Israel membatasi area kompleks suci tersebut.

Mereka memenuhi ruang salat tertutup maupun halaman terbuka Masjid Al-Aqsa. Polisi Israel terlihat berada di dalam kompleks dan bergerak di antara para jamaah selama pelaksanaan tarawih, menimbulkan ketegangan tersendiri di tengah suasana ibadah.

Meskipun menghadapi tekanan politik dan keamanan, warga Palestina tetap berupaya menjaga tradisi Ramadan. Tarawih pertama di Masjid Al-Aqsa menjadi simbol keteguhan iman dan semangat masyarakat untuk tetap menjalankan ibadah di tengah situasi sulit.

Sebelumnya, mantan Mufti Besar Yerusalem Sheikh Ekrima Sabri menyatakan, penyesalannya atas rencana Israel yang membatasi akses umat Muslim ke masjid tersuci ketiga di dunia itu. Ia menekankan bahwa pembatasan tersebut bisa mengganggu tradisi serta hak beribadah warga Palestina.

Sementara itu pasca Mufti Agung Yerusalem dan wilayah Palestina Sheikh Mohammed Hussein menegaskan bahwa pada Rabu (18/2/2026), menandai awal Ramadan bagi warga Palestina mulai berbondong-bondong mempersiapkan Ramadan. Antusiasme warga tidak hanya terlihat di Masjid Al-Aqsa. Di Jalur Gaza, suasana Ramadan juga mulai terasa sejak Selasa malam.

Warga beramai-ramai ke pasar lokal untuk membeli kebutuhan berbuka puasa. Namun, mereka menghadapi kesulitan besar dalam mengakses pangan dan air bersih akibat perang berkepanjangan serta pembatasan masuknya bantuan oleh Israel. Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025, pelanggaran dan serangan sporadis masih terus terjadi, menewaskan lebih dari 600 warga Palestina.

Distribusi bantuan truk kemanusiaan juga jauh dari target harian 600 truk, hal ini membuat banyak keluarga di Gaza terancam tidak bisa mendapatkan pasokan makanan cukup untuk sahur dan berbuka. (cnn/mmr)