Search
Close this search box.

Sertifikat Hak Milik 18 Ha Kembali Dijual, Anak Pemilik Menuntut

Sertifikat Hak Milik 18 Ha Kembali Dijual, Anak Pemilik MenuntutNews TVNews

PASANGKAYU, NEWSTV.ID – Sebidang tanah bersertifikat yang terletak di Desa Singgani, Kecamatan Lariang, Kabupaten Pasangkayu, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) telah terjual sejak tahun 2011, Selasa (15/11/2022).

H Muhammad Umar mengatakan, pembeli tidak mau membeli ketika belum memiliki Sertifikat tanah, maka waktu itu juga mengurus berkas dengan menemui Kepala Desa (Kades), Kepala Dusun (Kadus), Ketua Kelompok dan saya (Umar) ikut bertandatangan sebagai bukti kepengurusan (tanah-red) tidak bermasalah (sengketa).

“Semua selesai ditandatangi, saya bersama Pak Kamaruddin mendatangi kantor BPN Pasangkayu untuk mengurus prona, setelah berkas dinyatakan lengkap oleh pihak (BPN-red), kami turun bersama mengukur luas tanah, dan waktu itu tidak dalam sengketa, maka diterbitkanlah Sertifikat Hak Milik seluas 32 Hektar, sejak tahun 2011 silam,” terangnya dihadapan rekan-rekan media.

Menurut Umar, Sertifikat sudah terbit, maka Pak Kamaruddin langsung membayar tanah tersebut, namun setelah di tahun 2015, datanglah Gusman bersama dengan Rahman beserta teman-temannya diduga kembali menjual (tanah-red) seluas 18 hektar dari 32 Hektar tersebut, sementara pembelinya itu bernama Asse, Muslimin dan masih banyak lainnya.

“Sejak 2015, Asse, Muslimin bersama teman-temannya membeli 18 hektar tanah dari Gusman dengan Rahman, namun di tahun 2022 datanglah anak pak Kamaruddin (mantan Kapolres Pasangkayu), awalnya menyalahkan penjual dan pembeli karena telah memperjual belikan tanah bukan miliknya, apalagi sudah bersertifikat,” jelasnya.

Anak Pak Kamaluddin yang notabene saat ini menjabat sebagai Kapolsek Baras memanggil Kades, Kadus, pembeli dan penjual, tapi Gusman bersama Rahman tidak hadir.

Setelah selesai pertemuan, kami turun ke lokasi untuk dilakukan pengukuran ulang oleh pihak BPN, tapi saat mau diukur Pak Jasmin (Kades) marah, bahkan langsung menggambarkan peta manual diatas kertas bahwa beginilah luas tanah tersebut, dan nama Pak Kamaruddin tidak tercantum di dalam (peta manual-red) yang sudah bersertifikat.

“Maka dari gambar peta manual tersebut, Kapolsek Baras mempercayai bahwa lokasi itu betul milik Rahman, berdasarkan laporan dari Pak Jasmin,” ucap Umar.

Lanjut Umar, Kapolsek Baras menuntuk yang 18 Hektar, maka dia meminta dikembalikan uangnya sebesar Rp 25 juta perhektar, jadi keseluruhannya Rp 455 juta dan sudah termasuk ganti rugi pembayaran pajak.

“Menurut Kapolsek Baras, tidak mau membeli lahan yang bermasalah, makanya dia meminta uangnya dikembalikan, dan seharusnya (Kapolsek Baras-red) menanyakan ke Gusman bersama Rahman, mengapa menjual tanah bersertifikat hak milik Pak Kamaruddin, jadi sebenarnya saya tidak ada urusan lagi,” tegasnya.