BERITA  

Viral, Dipakantan,Detik Detik Oknum Kasubbag kepegawaian Diduga Cekik Camat di Acara Haornas, kini Camat Merasa Tidak Nyaman Satu Kantor

Viral, Dipakantan,Detik Detik Oknum Kasubbag kepegawaian Diduga Cekik Camat di Acara Haornas, kini Camat Merasa Tidak Nyaman Satu Kantor | Newstv Indonesia
Viral, Dipakantan,Detik Detik Oknum Kasubbag kepegawaian Diduga Cekik Camat di Acara Haornas, kini Camat Merasa Tidak Nyaman Satu Kantor | Newstv Indonesia

 

NEWSTV.ID | MANDAILING NATAL,

Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-43 di Kecamatan Pakantan, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara, yang seharusnya berlangsung khidmat dan meriah, justru berujung insiden yang memalukan.

Seorang oknum Kasubbag Kepegawaian Kecamatan Pakantan diduga melakukan tindakan brutal dengan mencekik dan menjatuhkan Camat Pakantan di hadapan peserta upacara, sekitar 500 orang peserta tepat saat Camat tersebut sedang menampilkan atraksi seni bela diri Karate.

Camat Pakantan mengaku merasa sangat dipermalukan di depan umum dan kini merasa tidak nyaman lagi satu atap dengan oknum tersebut. Ia meminta Bupati Mandailing Natal, Saipullah Nasution, untuk memberikan perhatian serius dan tindakan tegas,

KRONOLOGIS LENGKAP KEJADIAN MENURUT CAMAT PAKANTAN:

1. H-1 Persiapan (Sore Hari)
Sekitar jam 17.00 WIB, saya masih di kantor mempersiapkan administrasi dan lain-lain untuk pelaksanaan peringatan Haornas ke-43 di Kecamatan Pakantan.

Pada saat saya berada di ruangan Camat, tiba-tiba datang Sdr. Riswan dan Kasubbag Kepegawaian. Sdr. Riswan menyampaikan kepada saya bahwa lapangan sudah siap, namun menyebut lapangan kurang bagus dan benderanya kurang cocok. Saya jawab, bendera itu hanya formalitas saja, yang penting ada bendera dan ada lapangan tempat upacara.

2. Pagi Hari H, 09 September 2026
Kurang lebih pukul 07.30 WIB, sebagian peserta sudah berkumpul. Ketua Tim Panitia belum datang, tiba-tiba Sdr. Kasubbag Kepegawaian sudahp sibuk mengatur barisan dan datang menghadap saya agar segera berbaris dan berangkat.

Saya jawab, “Jangan dulu berangkat Pak Kasubbag, kumpul saja dulu untuk Tes Kesehatan Gratis sesuai dengan tertib acara yang sudah disusun Panitia.”

Saya lihat Ketua Panitia sudah datang dan heran kenapa mic dipegang oleh Kasubbag dan menyuruh peserta membuat barisan untuk berangkat. Selanjutnya Bu Sekcam selaku Ketua Panitia minta izin kepada saya supaya mic diserahkan ke Bu Sekcam. Saya jawab, “Minta sajalah Bu.” Setelah itu Bu Sekcam mengambil alih mic dari tangan Kasubbag dan mengumumkan kepada seluruh peserta, terutama aparat desa, untuk melaksanakan Cek Kesehatan Gratis terlebih dahulu.

3. Persiapan Atraksi
Pada saat peserta cek kesehatan gratis, saya masuk ke rumah dinas untuk mengganti pakaian menjadi pakaian Karate. Karena disamping sebagai ASN / pimpinan di Kecamatan Pakantan, saya juga mewakili Atlet Karate. Saya tahun 1992 – 1996 termasuk Atlet Karate Sumatera Barat yang telah beberapa kali meraih juara dan saya adalah satu-satunya di Pemkab Madina sampai saat ini yang pernah mendapat piagam penghargaan Haornas untuk Atlet dan Pelatih dari Bupati Mandailing Natal.

4. Awal Gangguan
Pada saat saya keluar dari rumah dinas, saya berdiri mondar-mandir untuk menertibkan barisan. Di saat itulah saya mendengarkan ucapan Kasubbag, “Ligi homu sajo ma naron sanga aha na terjadi.”

5. Menuju Lapangan
Setelah selesai cek kesehatan gratis, Ketua Tim Panitia menyuruh peserta berbaris sesuai susunan panitia. Saya melihat Kasubbag sibuk tidak karuan. Ketika peserta sudah tertib di posisi masing-masing, Kasubbag sibuk menyuruh peserta untuk maju berjalan dan saya stop karena barisan belum rapi.

Setelah itu saya suruh peserta maju sampai Kantor Kepala Desa Huta Padang supaya muat berbaris semuanya di badan jalan, mulai dari Aula Kantor Camat sampai depan Kantor Kepala Desa Huta Padang. Pada saat peserta masih sibuk merapikan barisan, Kasubbag sudah sibuk menyuruh barisan untuk maju supaya cepat sampai ke lapangan.

Di persimpangan empat, saya stop sebentar dan saya kasih kode kepada peserta ada Juri berdiri di seberang jalan. Lalu datang Kasubbag menyampaikan kepada saya kenapa di stop. Saya bilang supaya barisan rapi dan membuat Yel-yel. Tetapi Kasubbag mengatakan cuaca sudah panas. Saya jawab, “Biar peserta tahu disinilah titik pertama penilaian barisan dan yel-yel.” Sepertinya Kasubbag tidak terima apa yang saya sampaikan dan ingin barisan jalan terus biar cepat sampai ke lapangan.

6. Di Lapangan – Aksi Sawer
Pada saat sudah sampai di lapangan, saya perhatikan Kasubbag sudah sibuk dan peserta yang tampil pun di sawer. Padahal tidak ada acara saweran di kegiatan ini, apalagi para peserta masih sibuk mempertunjukkan Yel-yel. Tiba-tiba datang Kasubbag menyawer uang lembaran Rp 100 ribu.

Setelah semua penampilan Yel-yel peserta selesai, acara selanjutnya adalah upacara dan arahan dari Camat Pakantan. Pada saat pimpinan / Camat Pakantan memberikan arahan, saya lihat Kasubbag menepuk-nepuk tangan sendiri dengan wajah seperti meremehkan pimpinannya.

7. Puncak Kejadian – Dugaan Pencekikan Saat Atraksi Karate*
Setelah selesai upacara, Camat Pakantan sebagai pembina upacara merangkap mewakili Atlet, melaksanakan atraksi Jurus / Kata dan Teknik-teknik Kumite Pertandingan.

Pada saat saya tampil membawakan Jurus / Kata EMPI, Kasubbag tiba-tiba tanpa ada yang menyuruh mendekati saya dan menghalang-halangi gerakan saya. Yang sebenarnya tidak diperbolehkan mengganggu konsentrasi Atlet apabila menampilkan Seni Kata / Jurus, selain perintah pembawa acara.

Pada saat saya bergerak, Kasubbag selalu mengganggu gerakan saya dan merasa diapun pandai dan ini ditunjukkannya di depan saya pada saat saya tampil atraksi tunggal sehingga mengganggu konsentrasi saya. Saat gerakan saya hampir selesai, saya meliriknya, beliau menyepakkan kakinya dengan aura wajah sombong dan congkak ke arah saya.

Pada saat saya tampil ronde kedua untuk menampilkan Teknik-teknik Kumite Pertandingan untuk mendapatkan nilai, beliaupun datang mengganggu. Kemana arah saya, kesitu arahnya. Pada saat saya menampilkan cara pengambilan nilai untuk pukulan Gyaku Tsuki, posisinya berada di depan saya, sehingga beliau merasa saya serang.

Saya menjauh dan menghindar ke arah depan, sementara di depan saya terhalang oleh barisan peserta, sehingga saya berbalik arah. Pada saat saya mau berbalik arah, disitulah Kasubbag melaksanakan serangan brutal dan menjatuhkan saya, menindih badan saya dibantu oleh tekanan kakinya ke tanah agar saya tidak bisa berbalik arah.

Disaat saya mau berbalik arah, leher saya dicekiknya dengan lengannya yang kuat, sehingga saya melakukan perlawanan sedikit dengan mengarahkan kedua lengan saya ke leher agar leher saya tidak sakit kena jepitan lengannya.

Setelah ada yang melerai, saya berdiri dan menyampaikan kepada Kasubbag, “Ada apa ini Pak Kasubbag, kenapa seperti ini? Saya kan hanya atraksi? Kenapa bisa seperti ini?” Dijawab Kasubbag, “Saya pikir serius.” Terus saya tepuk bahunya, saya bilang “Gak apa-apa, mungkin salah pengertian.” Terus beliau memeluk saya dan menyebutkan “Maaf ya Pak Camat, saya pikir serius,” kata Pak Kasubbag,

Tapi hati saya tidak berterima, karena telah mempermalukan saya di depan umum, apalagi saya selaku pimpinan di Kecamatan Pakantan. Tidak ada etika, adab, moral mempertunjukkan kebodohan, kesombongan, kecongkakan seperti ini di depan anak-anak bangsa, generasi penerus Anak Tanah Harajaan Pakantan!

Dan ini merupakan momen terburuk di depan anak-anak Pakantan generasi penerus bangsa, mereka nanti menganggap bahwa dibolehkan hal-hal seperti ini kepada orang tuanya, gurunya, pimpinannya.

Hingga berita ini diturunkan, Camat Pakantan berharap Bupati Mandailing Natal Bapak Saipullah Nasution segera memberikan pembinaan dan sanksi tegas kepada oknum tersebut demi menjaga marwah pemerintahan dan etika sebagai ASN.

Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *