Dari Tsunami 2004 hingga Banjir Bandang: Aceh Tamiang Diproyeksikan Jadi Pusat Wisata Edukasi Sejarah Bencana

Dari Tsunami 2004 hingga Banjir Bandang: Aceh Tamiang Diproyeksikan Jadi Pusat Wisata Edukasi Sejarah Bencana | NEWS TV Indonesia
Dari Tsunami 2004 hingga Banjir Bandang: Aceh Tamiang Diproyeksikan Jadi Pusat Wisata Edukasi Sejarah Bencana | NEWS TV Indonesia

Newstv.id — Aceh Timur — Aceh memiliki sejarah besar yang dikenal dunia, mulai dari kejayaan kerajaan-kerajaan Aceh hingga tragedi kemanusiaan seperti tsunami 26 Desember 2004 dan bencana banjir bandang hidrometeorologi yang terus berulang di sejumlah wilayah. Potensi ini dinilai sangat layak dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah dan edukasi bencana berskala internasional.

 

Ketua Jaringan Wartawan Indonesia (JWI) Aceh Timur, Hendrika Saputra, menegaskan bahwa sudah saatnya pemerintah Aceh melakukan langkah konkret dalam melestarikan situs-situs sejarah sekaligus membangun objek wisata baru yang berbasis fakta sejarah.

 

“Tragedi tsunami 2004 telah mengantarkan Aceh dikenal dunia melalui Museum Tsunami di Banda Aceh. Kini Aceh perlu melangkah lebih jauh dengan menghadirkan Museum Banjir Bandang yang dipusatkan di Aceh Tamiang, sebagai daerah yang kerap dilanda bencana banjir,” ujar Hendrika.

 

Menurutnya, Museum Banjir Bandang Aceh Tamiang tidak hanya berfungsi sebagai tempat wisata, tetapi juga sebagai pusat edukasi, mitigasi bencana, dan pengingat sejarah agar peristiwa serupa tidak terulang tanpa kesiapsiagaan.

 

Hendrika menyebutkan, wisatawan mancanegara, khususnya dari Malaysia, Thailand, dan negara-negara Asia lainnya, memiliki minat tinggi terhadap wisata sejarah Aceh. Apalagi Aceh memiliki keterkaitan sejarah dengan kawasan Asia Tenggara.

 

“Banyak wisatawan Malaysia dan Thailand datang ke Aceh karena sejarah dan nilai religiusnya. Jika objek wisata tsunami dan banjir bandang dikemas dengan baik, maka Aceh akan menjadi tujuan utama wisata sejarah bencana di Asia,” jelasnya.

 

Selain pembangunan museum, JWI Aceh Timur juga mendorong revitalisasi situs cagar budaya, terutama makam-makam raja dan peninggalan kerajaan Aceh yang tersebar di berbagai daerah. Hendrika menilai, kondisi sebagian situs saat ini masih minim perhatian, baik dari segi akses jalan maupun fasilitas pendukung.

 

“Kami berharap pemerintah menyediakan jalan aspal dua jalur, pagar pembatas situs, gapura, papan nama, serta peremajaan kawasan makam raja-raja Aceh agar layak menjadi destinasi wisata sejarah,” katanya.

Hal ini diperkuat oleh T. Saiful Anwar, keturunan Raja Idi, yang menyatakan bahwa makam-makam kerajaan Aceh merupakan warisan sejarah bernilai tinggi dan harus dijaga dengan pemugaran yang tepat tanpa menghilangkan keaslian.

 

Hendrika juga mengusulkan konsep jalur wisata terpadu dari timur Aceh, dimulai dari Bandara Kualanamu menuju Aceh Tamiang untuk mengunjungi Museum Banjir Bandang, dilanjutkan ke situs-situs makam kerajaan Aceh, kemudian ke Museum Tsunami Banda Aceh dan Masjid Raya Baiturrahman.

 

“Jika tiga pilar ini—Museum Banjir Bandang Aceh Tamiang, situs sejarah kerajaan Aceh, dan Museum Tsunami Banda Aceh—dikelola secara serius, maka Aceh akan memiliki daya tarik wisata kuat dan berkelanjutan, serta dikunjungi wisatawan setiap tahun,” tegas Hendrika.

 

Ia menutup dengan harapan agar pemerintah Aceh berani membebaskan lahan yang layak dan mengganti rugi secara adil demi pembangunan museum dan kawasan wisata sejarah, sehingga Aceh tidak hanya dikenal sebagai daerah rawan bencana, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran, peradaban, dan wisata sejarah dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *