BERITA  

Jurnalis Bukan Hanya Penulis Melainkan Bagian Daripada Saksi Sejarah

Jurnalis Bukan Hanya Penulis Melainkan Bagian Daripada Saksi Sejarah | Newstv Indonesia
Jurnalis Bukan Hanya Penulis Melainkan Bagian Daripada Saksi Sejarah | Newstv Indonesia

Jakarta,

SAKSI SEJARAH DAN TOKOH IDOLA – Tomy Suryopratomo, mantan Pemred KOMPAS – salahsatu pendiri Serikat Wartawan SWSI 60+ menyatakan, wartawan bukan hanya penulis berita dan pekerja media cetak, melainkan juga saksi sejarah.

 

Merujuk pada undangan yang hadir, para senior yang berusia 60 hingga 80 tahun plus, mereka saksi ketika Ir. Sukarno masih berkuasa, melampaui 32 tahun masa pemerintahan Suharto hingga kejatuhannya, sampai era reformasi kini. Mencatat pergolakan demi pergolakan, sejak zaman kereta klutuk hingga zaman MRT dan kereta cepat Whoosh.

 

Mereka datang tertatih tatih di auditorium di lantai tiga (3) LSPR Communication and Business Institute – di Sudirman Park, Jakarta Pusat pada usianya yang sudah sepuh demi berkumpul dengan penerusnya. Saya melihat ada yang datang dengan tongkat. Semangat berjunalistik masih menyala pada tatapannya.

 

Tomy Suryopratomo, mantan Dubes Indonesia di Singapura itu mengutip pernyataan pendiri Kompas, Pak Jacob Oetama (alm) tentang sosok Rosihan Anwar (1922-2011) sebagai jurnalis, dan tokoh pers legendaris yang menghadirkan pendekatan petite histoire (sejarah kecil) sebagai pembanding narasi sejarah formal yang kaku.

 

Pak Ros, guru jurnalistik saya, menulis seri Sejarah Kecil (“Petite Histoire”) Indonesia hingga tujuh (7)buku dan mentasbihkannya sebagai sejarawan, selain wartawan, aktor, dan seniman.

 

Di masa lalu, para wartawan menempati posisi yang terhormat, hingga kepala negara memilih sebagian mereka untuk duduk di kabinet, menjadi menteri andalan, menjadi diplomat yang mumpuni, dan duta besar di berbagai negara, seperti H. Adam Malik yang duduk di PBB, Dubes di Moscow (BM DIah).

 

Di masa pemerintahan Prabowo Subianto, tuah wartawan masih ada, dengan terpilihnya Meuthia Hafidz (Metro TV) menjadi Menteri Komunikasi dan DIgital meneruskan jejak H. Harmoko, yang berada di kabinet hingga empat periode. Ni Luh Puspa Kompas TV juga dilantik menjadi Wakil Menteri Pariwisata. Wartawan Tempo dan CNN Indonesia, Nezar Patria juga didapuk menjadi Wakil Menteri (Wamen) Komunikasi dan Digital di Kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran.

 

Ada juga Prabu Revolusi (Metro TV) menggantikan Usman Kansong (Media Indonesia) yang sebelumnya menjabat Dirjen IKP Kominfo selama 3 tahun. Prabu sempat menjadi jubir dan Staf Khusus Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sedangkan Usman Kansong lantas mengundurkan diri pada 13 Agustus 2024 dan menulis buku.

 

Entah bagaimana masa depan wartawan di era media yang banyak dirasuki Artificial Intellegent (AI) nanti.

 

H. Harmoko, wartawan terlama di Kabinet Suharto, adalah pendiri koran ‘Pos Kota’, boss saya di kantor. Tapi beliau sudah meninggalkan ruang redaksi masuk ke kabinet, Feburari 1984, saat saya bergabung di media perkotaan itu. Sebelumnya Pak Moko sudah jarang ngantor, karena sibuk memimpin PWI Pusat dan kemudian menjadi Ketua Umum Golkar.

 

Dari Pak Harmoko, saya mendapat pelajaran penting tentang kerja kewartawanan: “Dari satu tiang listik ke tiang listik yang lain, ada berita – ada cerita. Jangan pulang ke kantor tanpa membawa berita! ” tegasnya. Dia marah besar ketika wartawan yang ngepos di Istana Negara dan Bina Graha pulang tanpa berita, karena Presiden Suharto sedang kunjungan ke daerah.

 

“Itu rumput di istana, kijang di istana, itu dapur di istana semua bisa jadi cerita, bisa jadi berita. Sekarang kamu balik ke sana! Jangan kembali ke kantor kalau nggak ada bahan tulisan!” teriaknya murka.

 

Selain Harmoko, para redaktur dan pelatih saya membimbing saya bagaimana membuat lead, bagaimana mendekati narasumber, bagaimana menyusun features. Namun sebagian rujukan saya adalah jurnalis kawakan dari media lain.

 

Saya mengembangkan jurnalistik tidak hanya terjun ke lapangan, membaca buku, namun melihat bagaimana nama nama besar berkarya, dari media nasional.

 

Koran KOMPAS dan majalah TEMPO adalah rujukan saya di era 1980-1990. Rasanya juga jadi rujukan semua jurnalis muda – di masa itu. Meski tulisan sendiri sudah naik cetak halaman satu, belum lega bila belum membaca liputan yang sama, yang ditulis oleh KOMPAS dan kemudian dijalin TEMPO yang terbit setiap Rabu. Para sastrawan hebat, seperti Goenawan Mohamad, Putu Wijaya, Putu Setia, Syubah Asa, Isma Sawitri berkarya di sana. Petang kemarin, saya foto bareng dengan Marah Sakti Siregar, yang “tersisa” dari Tempo Lama, dan foto bareng juga dengan Wahyu Muryadi, salahsatu Pendiri SW60+, mentan Pemred TEMPO juga.

 

Untuk pertama kalinya saya berjumpa dengan Albert Kuhon, petang kemarin. Saya membeli bukunya “Kesaksian 23 Wartawan Kompas”. Albert Kuhon adalah jurnalis KOMPAS yang pindah ke ‘Suara Pembaruan’, setara dengan Noorca N Massardi, yang pindah dari ‘TEMPO’ ke KOMPAS, jurnalis papan atas di media nasional yang paling berwibawa pada masanya.

 

Dari mereka saya menelisik karyanya, membedah, menganalisa, meniru, memodifikasi, mengambil diksi diksi yang relevan, pilihan kata dan kalimat yang kuat dan menohok – untuk diterapkan ke tulisan saya.

 

Begitulah kebanyakan wartawan mengembangkan diri masa itu, belajar dari jurnalis yang lebih senior.

 

Untuk pertama kali, saya juga bertemu Daud Sinyal, nama besar dan “living legend” di ‘Sinar Harapan’, koran sore yang pernah berjaya. Dia sosok legendaris, bersama sama Aristides Katopo, sebagai penjaga jurnalisme independen. Ada Panda Nababan juga hadir, dari media yang sama, yang kini menjadi orang penting di PDIP.

 

Bambang Soesatyo adalah jurnalis koran ‘Prioritas’ dan ‘Infobank’, yang terjun ke politik, dan kini memimpin MPR RI – yang juga hadir dan duduk di VIP. Hanya amprokan saja, tak sempat ngobrol. Kurang begitu kenal juga. Jelas dia lupa siapa saya.

 

“Serikat Wartawan Senior Indonesia di atas 60 tahun, ini adalah bagian dari sebuah panggilan bahwa wartawan tidak pernah berhenti untuk berkarya. Tagline yang selalu dipakai, ‘never sleep, never die’. Dan karena itu, kami di SWSI 60+ ini, kami mengundang semua teman yang menyatakan dirinya seorang wartawan untuk tetap berkarya,” ujar Suryopratomo dalam sambutannya.

Ismed Harahap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *