NEWSTV.ID | MANDAILING NATAL,
Insiden antara Camat Pakantan, Armada, dengan Kepala Sub Bagian Kepegawaian Kantor Camat Pakantan, M. Jakfar, saat peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) pada 9 September 2026 lalu, kembali menjadi perhatian publik setelah video kejadian tersebut beredar di media sosial.
Menanggapi video yang beredar, M. Jakfar angkat bicara dan memberikan klarifikasi langsung kepada awak media ini, Minggu (18/10/2026). Ia membantah keras tudingan telah melakukan penyerangan terhadap atasannya.
“Tidak ada niat untuk melukai, itu murni refleks karena Pak Camat menampilkan gerakan ke arah saya,” tegas Jakfar.
Kronologi Versi M. Jakfar
Jakfar menjelaskan, saat acara Haornas berlangsung, Camat Armada sempat memperagakan atraksi karate yang menurutnya tidak tercantum dalam susunan acara resmi. Namun, panitia tetap memberikan kesempatan.
Ketika pembawa acara (MC) menyampaikan ada peserta yang ingin berhadapan dengan camat, Jakfar kemudian maju ke lapangan.
“MC bilang ada yang mau lawan, saya pun maju. Memperagakan gerakan-gerakan yang saya buat-buat dan itu tidak saling mengenai,” ujarnya.
Setelah peragaan selesai, Jakfar mengaku kembali ke barisan. Namun, Camat Armada disebut masih melanjutkan beberapa gerakan.
“Selesai itu, saya kembali ke barisan, tapi ternyata Pak Camat masih melanjutkan gerakan tiga kali pukulan dan sekali tendangan,” jelasnya.
Pada saat itulah, menurut Jakfar, dirinya yang sedang berbalik ke belakang secara spontan menghindar karena ada gerakan yang mengarah kepadanya. Gerakan menghindar tersebut diduga membuat Armada kehilangan keseimbangan hingga tersungkur.
“Saya pun berusaha menangkap Pak Camat agar tidak jatuh, tapi video yang disebar tidak utuh. Jadi, seolah-olah ada kesengajaan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, setelah kejadian keduanya langsung berdiri, bersalaman dan berpelukan, bahkan dirinya telah meminta maaf.
“Benar, saya minta maaf. Saya juga memeluk beliau menunjukkan bahwa itu tidak ada niat mencederai. Pak Camat juga bilang tidak apa-apa,” katanya.
Sempat Dianggap Selesai, Video Kembali Viral
Menurut Jakfar, persoalan sempat dianggap selesai karena sudah saling memaafkan. Namun, persoalan kembali mencuat setelah video insiden beredar luas.
Ia mengaku dipanggil Pj Sekretaris Daerah Madina, Afrizal Nasution, pada hari Jumat ke Panyabungan.
“Beliau berpesan agar kami baik-baik di sini dan meminta saya untuk meminta maaf,” ujarnya.
Sebagai bawahan, Jakfar mengaku bersedia memenuhi permintaan tersebut.
Namun, pada malam Selasa, ia justru dikirimi video yang sudah viral oleh kawan-kawan dan keluarga.
“Saya kan tidak pakai Facebook, anak-anak juga menyampaikan hal tersebut. Saya bingung dan merasa malu,” tuturnya.
Untuk meredam persoalan, Jakfar kemudian mengajak sejumlah tokoh masyarakat menemui Pj Sekda Afrizal dengan harapan dilakukan mediasi.
“Kami ke rumah Pak Sekda, beliau meminta camat untuk datang, tapi yang bersangkutan tidak hadir,” katanya.
Jakfar juga keberatan jika persoalan ini dikaitkan dengan posisinya di organisasi MUI.
“Kejadian itu tidak ada hubungannya dengan posisi saya di organisasi MUI, maunya jangan sampai ke sana,” tambahnya.
Versi Camat Armada: Merasa Dipermalukan
Sebelumnya, Camat Pakantan Armada juga telah memberikan keterangan. Ia mengaku merasa malu dan tidak nyaman berada satu kantor dengan Jakfar setelah kejadian itu.
Menurut Armada, insiden bermula ketika dirinya sedang memperagakan gerakan karate, lalu Jakfar tiba-tiba masuk ke lapangan.
“Saat gerakan saya hampir selesai, saya meliriknya, beliau menyepakkan kakinya dengan aura wajah sombong dan congkak ke arah saya,” kata Armada seperti dikutip dari pemberitaan sebelumnya.
Meski demikian, Armada membenarkan bahwa setelah insiden keduanya sempat bersalaman dan berpelukan.
“Terus saya tepuk bahunya, saya bilang, enggak apa-apa, mungkin salah pengertian. Terus beliau memeluk saya dan menyebutkan, ‘Maaf, ya, Pak Camat, saya pikir serius’,” ungkap Armada.
Namun, Armada mengatakan peristiwa tersebut tetap membuat dirinya merasa tidak nyaman karena terjadi di hadapan masyarakat dan anak-anak.
“Tapi, hati saya tidak berterima karena telah mempermalukan saya di depan umum, apalagi saya selaku pimpinan di Kecamatan Pakantan,” pungkasnya.
Sementara itu, Jakfar berharap persoalan ini tidak semakin melebar. Ia berharap Camat Armada kembali beraktivitas di Kantor Camat Pakantan sehingga persoalan dapat diselesaikan secara baik-baik.
“Tapi sejak peristiwa itu, Pak Camat hanya sekali ke Pakantan, itu pun tidak sampai ke kantor,” tutup Jakfar.
Tim













