BERITA  

Perampokan Berdarah di wilayah hukum Polsek Cipatat/ polres cimahi Keamanan Lumpuh, Polisi Dinilai Gagal Lindungi Warga Cipatat Mencekam: Preman merajalela

CIPATAT – Aksi perampokan dengan kekerasan kembali terjadi di wilayah hukum Polsek Cipatat. Kali ini, korban adalah seorang warga Aceh berinisial Pajar, yang menjadi sasaran kejahatan brutal di rumah kontrakannya sendiri. Diduga pelaku komplotan ( adul) yang masih buron kasus pembacokan menurut pengakuan warga setempat Akibat kejadian tersebut, korban mengalami patah hidung 31/01/2026

akibat hantaman benda keras oleh pelaku dan menderita kerugian material sekitar Rp20 juta , kejadian tersebut pada Sabtu malam diperkirakan jam 9 malam
Peristiwa ini bukan sekadar kasus kriminal biasa, melainkan potret nyata buruknya sistem pengawasan dan lemahnya penegakan hukum di wilayah Cipatat. Kejahatan serupa terus berulang, namun ironisnya tidak diiringi dengan tindakan tegas yang mampu memberikan efek jera.


Warga menilai, wilayah Cipatat saat ini berada dalam kondisi darurat keamanan. Premanisme tumbuh subur, kejahatan jalanan dan perampokan kian berani, pengajuan kornanbahkan dilakukan di lingkungan permukiman warga tanpa rasa takut terhadap hukum. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa kehadiran aparat penegak hukum di lapangan nyaris tak terasa.

“Ini bukan kejadian pertama. Sudah berkali-kali, tapi selalu saja terulang. Kami jadi bertanya, di mana fungsi pengawasan dan patroli?” ujar salah satu warga dengan nada kecewa.

Kejadian yang menimpa Pajar memperlihatkan betapa warga dibiarkan menghadapi ancaman kriminal sendirian, sementara pelaku kejahatan seolah bebas berkeliaran. Kondisi ini memicu kemarahan dan keresahan publik, karena keamanan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara justru gagal diwujudkan.

Polsek Cipatat sebagai pemegang otoritas keamanan di wilayah tersebut dinilai tidak maksimal dalam melakukan pencegahan, penindakan, maupun penertiban terhadap kelompok-kelompok preman yang selama ini meresahkan masyarakat. Jika aparat hanya bergerak setelah korban berjatuhan, maka penegakan hukum patut dipertanyakan.

Masyarakat mendesak agar kepolisian segera melakukan evaluasi menyeluruh, meningkatkan patroli secara nyata, serta memberantas premanisme tanpa pandang bulu. Keamanan tidak boleh hanya menjadi jargon seremonial, melainkan harus dirasakan langsung oleh warga di tingkat paling bawah.

Apabila situasi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum akan semakin runtuh. Perampokan brutal yang menimpa Pajar adalah peringatan keras bahwa Cipatat sedang berada di ambang krisis keamanan, dan pembiaran sama artinya dengan kegagalan melindungi masyarakat.

Warga kini menunggu keberanian aparat: bertindak tegas atau terus membiarkan teror kriminal menguasai Cipatat.   ( Team jabar )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *