BERITA  

“Kotak Kosong Mengguncang Maros: Milenial dan Basis Lokal Bersatu Demi Kemenangan Bersejarah di Pilkada 2024”

"Kotak Kosong Mengguncang Maros: Milenial dan Basis Lokal Bersatu Demi Kemenangan Bersejarah di Pilkada 2024" | NEWS TV Indonesia
"Kotak Kosong Mengguncang Maros: Milenial dan Basis Lokal Bersatu Demi Kemenangan Bersejarah di Pilkada 2024" | NEWS TV Indonesia

Maros – Dukungan terhadap Kolom Kosong (KOKO) dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Maros semakin solid, seiring dengan penguatan simpul-simpul relawan di berbagai desa. Kampanye yang mengusung KOKO sebagai simbol perlawanan politik semakin mendapat momentum, terutama di kalangan milenial yang mendukung perlawanan terhadap kandidat tunggal.

Pertemuan strategis yang berlangsung di Posko Jenderal Pemenangan Kotak Kosong (JK), Kelurahan Pettuadae, Kecamatan Turikale, Sabtu (19/10), menandai puncak mobilisasi KOKO. Dihadiri oleh sejumlah tokoh berpengaruh seperti mantan Ketua Golkar Maros, H.A. Husain Rasul, Sekretaris Jenderal Pamai, Andi Nur Jaya, serta perwakilan dari Jamarro, Ilyas Cika, pertemuan ini memperkuat struktur kampanye di lapangan. Puluhan komunitas lokal juga hadir memberikan dukungan moril.

Dalam pidatonya, Husain Rasul menegaskan bahwa gerakan KOKO bukan hanya tentang simbol pemilihan kosong, tetapi juga perlawanan terhadap stagnasi demokrasi. “Gerakan ini harus terus dikobarkan. Warga Maros memiliki tanggung jawab moral untuk memilih Kotak Kosong. Ini bukan sekadar pilihan, tapi sebuah keharusan,” ujarnya dengan semangat.

Antusiasme pendukung terlihat dari seruan yang menggema di Posko JK. Ratusan simpatisan yang hadir menyatakan kesiapan penuh untuk memenangkan KOKO. Panggilan Husain Rasul, yang akrab disapa Puang Cuceng, menggema: “Siap memenangkan Kotak Kosong?” yang langsung dijawab dengan “Siap!” oleh para pendukung.

Kaum milenial memainkan peran sentral dalam gerakan ini. Terlibatnya kelompok muda dalam kampanye menunjukkan bahwa KOKO tak hanya menarik perhatian kelompok tradisional, tetapi juga menyatukan berbagai lapisan masyarakat, termasuk pedagang dan aktivis LSM. Husain Rasul melihat hal ini sebagai potensi besar untuk memenangkan Pilkada, mengingat dinamika politik yang memicu kebangkitan gerakan lokal seperti “siri’na pacce.”

Andi Nur Jaya dan Ilyas Cika juga memberikan arahan, mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi kecurangan. “Setiap langkah harus dipantau dengan ketat. Pilkada Maros harus menjadi contoh demokrasi yang bersih,” kata Andi Nur Jaya.

Gerakan KOKO bukan hanya tentang politik elektoral, tetapi tentang pembentukan demokrasi yang lebih sehat dan partisipatif di masa depan. “Jika Kotak Kosong menang, ini akan melahirkan generasi pejuang demokrasi yang lebih kuat pada 2025,” tutup Husain Rasul.

Momentum yang terus berkembang ini menunjukkan bahwa KOKO tidak hanya menjadi alternatif pilihan, tetapi juga sebagai simbol perlawanan politik yang menyatukan berbagai elemen masyarakat Maros.

(Andi Mawang Batara Soli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *