BERITA  

KETUA YAYASAN SUARA MASYARAKAT MAJALENGKA. ASEP NURDIANSAH. DI BIKIN KAGET Majalengka 26/06/2025 Newstv.id

KETUA YAYASAN SUARA MASYARAKAT MAJALENGKA. ASEP NURDIANSAH. DI BIKIN KAGET Majalengka 26/06/2025 Newstv.id | NEWS TV Indonesia
KETUA YAYASAN SUARA MASYARAKAT MAJALENGKA. ASEP NURDIANSAH. DI BIKIN KAGET Majalengka 26/06/2025 Newstv.id | NEWS TV Indonesia

 

Ketua yayasan SMM asep nurdiansyah /abah bogel Sangat menyayangkan ketika tau ada Wawancara Eksklusif 300 Juta: Antara Pencitraan dan Lubang Jalan yang Minta Perhatian sama

Bupati Majalengka tampak elegan duduk di sofa kulit mewah, dikelilingi ornamen kemewahan, dengan gestur penuh kharisma memberi “wawancara eksklusif” kepada media nasional Detikcom. Tak tanggung tanggung, untuk tayangan berdurasi beberapa menit ini, rakyat Majalengka harus MEROGOH kocek bersama sebesar Rp300.000.000.

Efisiensi? Oh, yang itu mungkin hanya untuk rakyat.
Saat pemerintah pusat gencar menyerukan efisiensi anggaran, dari rapat daring sampai larangan perjalanan dinas ke luar negeri, Majalengka memilih gaya “publikasi first, jalan berlubang later.” Padahal, lubang-lubang di jalan desa sudah lama menanti “wawancara eksklusif” dengan aspal.

Kenapa Detikcom? Kenapa bukan media lokal?
Bukankah media lokal lebih memahami denyut nadi masyarakat Majalengka? Tapi mungkin, dalam logika pencitraan, “akses klik nasional” jauh lebih penting daripada mendengarkan warga yang setiap hari menerjang jalan rusak menuju sekolah atau pasar. Lagi pula, apa pentingnya suara wartawan lokal yang sudah bertahun-tahun meliput hujan-deras dan banjir di pelosok desa, dibandingkan satu sesi wawancara glossy di media elite?

Ketika bicara efisiensi tapi faktanya harus selfie?
Jika efisiensi adalah alasan menghapus beberapa program rakyat, kenapa tidak berlaku untuk anggaran seperti ini? Katanya demi publikasi dan promosi daerah. Tapi, apakah satu wawancara eksklusif setara dengan sebulan pencapaian nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat?

Media Lokal: Ada, Tapi Seolah Tak Dianggap.
Sementara media lokal hanya bisa menonton dari pinggir lapangan sambil tetap setia menulis berita gratis demi tanggung jawab moral dan cinta pada daerahnya. Ibarat juru masak yang tak pernah diajak makan.ujar
Asep Nurdiansyah/Abah bogel

(Biro newstv.id Majalengka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *