Padangsidimpuan, NEWSTV.ID – Tragedi banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, pada Jumat, 14 Maret 2025, menyisakan luka mendalam bagi warga, terutama di Desa Huta Lombang, Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara. Bencana ini meluluhlantakkan pemukiman warga yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Angkola, menghancurkan rumah, fasilitas umum, hingga harapan hidup sejumlah keluarga.
Salah satu yang paling terdampak adalah Nirwan Nasution (26), seorang warga muda yang kehilangan seluruh harta bendanya. Rumah miliknya yang berdiri tak jauh dari bibir sungai, hanyut dibawa derasnya arus banjir. Kini, Nirwan bersama keluarganya harus mengungsi ke rumah neneknya, hidup seadanya dan berharap pada bantuan yang belum pasti datang.
“Kami tidak bisa menyelamatkan apa-apa. Saat air datang, kami hanya sempat lari menyelamatkan diri. Rumah kami hilang, benar-benar hilang dibawa arus,” ungkap Nirwan dengan mata berkaca-kaca, Kamis (10/07/2025).
Tragedi yang dialami Nirwan bukanlah satu-satunya. Sedikitnya dua rumah lain mengalami kerusakan berat, termasuk milik Nurhayani Pakpahan (76) dan Melisa Pulungan (32). Keduanya berharap pemerintah turun tangan dengan cepat untuk memberikan bantuan demi meringankan beban mereka.
Kepala Desa Huta Lombang, Hilman Bandaharo, menjadi sosok penting dalam upaya penyelamatan dan penanganan awal pascabencana. Sejak hari pertama, Hilman langsung turun ke lapangan, mendata korban, mengevakuasi warga, hingga mengomunikasikan kondisi darurat ini kepada Pemerintah Kota Padangsidimpuan.
“Kami tidak bisa menunggu. Begitu air surut, saya langsung keliling mendata korban. Ini bencana serius. Rumah warga hanyut, akses jalan sempat terputus, dan kebutuhan mendesak harus segera dipenuhi,” ujar Hilman tegas.
Setelah melakukan pendataan, Hilman langsung menyampaikan laporan resmi kepada Wali Kota Padangsidimpuan. Tak berhenti di situ, ia bahkan mengambil inisiatif untuk langsung menemui pejabat BWS (Balai Wilayah Sungai) di Kota Medan, berharap ada respons cepat dalam bentuk bantuan material dan relokasi.
“Saya tidak ingin warga saya hanya dijanjikan bantuan. Saya datang langsung ke provinsi, membawa bukti dan data lengkap. Saya minta ini ditangani dengan serius karena ini menyangkut keselamatan dan masa depan warga saya,” katanya.
Langkah cepat Hilman menuai apresiasi dari banyak pihak. Ia menunjukkan ketegasan dan keberpihakan pada rakyat. Baginya, menjadi kepala desa bukan sekadar jabatan administratif, melainkan amanah kemanusiaan yang harus dijalankan dengan nurani.
Sementara itu, Nirwan dan keluarganya kini tidur berdesakan di rumah neneknya bersama belasan anggota keluarga lainnya. Mereka tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga dokumen penting, pakaian, dan seluruh perabotan rumah tangga.
“Kami butuh bantuan sesegera mungkin. Saat ini kami bertahan, tapi tidak tahu sampai kapan. Saya hanya ingin bisa membangun kembali rumah kami, meski sederhana,” ujar Nirwan penuh harap.
Bencana itu juga menyisakan kerusakan pada sektor pertanian warga. Beberapa lahan sawah dan kebun yang berada di lereng bukit mengalami longsor, sementara ternak-ternak warga banyak yang hanyut atau mati.
Hilman Bandaharo menyatakan bahwa ia telah mengusulkan dan meminta perhatian dari Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, BPBD, Inspektorat, Wali Kota dan BWS (Balai Wilayah Sungai)
“Ini bukan hanya soal membangun kembali rumah. Ini soal membangun kembali kehidupan. Saya berharap semua pihak—daerah, provinsi, hingga pusat—datang membantu bukan hanya melihat,” tegasnya lagi.
Peristiwa ini menjadi cermin bahwa pengelolaan lingkungan dan mitigasi bencana di Indonesia masih menyisakan pekerjaan rumah. Kawasan pemukiman yang terlalu dekat dengan DAS, minimnya sistem peringatan dini, serta lemahnya infrastruktur penanggulangan banjir harus segera dibenahi.
Di tengah derita dan kehilangan, Desa Huta Lombang memberi pelajaran tentang kepemimpinan di tengah krisis. Sosok seperti Hilman Bandaharo adalah bukti bahwa kepala desa bisa menjadi ujung tombak kemanusiaan. Dan Nirwan Nasution menjadi simbol dari ribuan rakyat kecil yang sabar namun terus berharap akan hadirnya keadilan dan perhatian negara.
Jurnalis: Andi Hakim Nasution













