Newstv.id | Mandailing Natal
Di balik sosok Ketua DPW Ikatan Jurnalis Independen Nusantara (IJEN) Sumatera Utara, sekaligus Pimpinan Redaksi Media Liputan9.co,Ismed Harahap ternyata memiliki perjalanan hidup yang panjang, penuh liku, dan sarat nilai spiritual.
Ismed Harahap lahir dari keluarga anak saudagar karet di Desa Sihepeng, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara. Kehidupan yang sederhana di kampung karet itu membentuk karakternya yang ulet dan mandiri.
Setelah menamatkan pendidikan di SMAN 1 Siabu tahun 1996/1997, Ismed tidak langsung kuliah. Ia memilih mengadu nasib menimba ilmu di perantauan. Ia melanjutkan kursus Bahasa Inggris di PPLK Nusantara di Padang, Sumatera Barat.
“Setahun saya di Padang kursus bahasa Inggris. Modal itu yang saya bawa untuk melangkah lebih jauh,” kenang Ismed.
Berbekal kemampuan bahasa Inggris, Ismed mencoba peruntungan mendaftar sebagai Calon TNI Secaba di Kodam I/Bukit Barisan, Namun takdir berkata lain, jalan hidupnya rupanya bukan sebagai prajurit.
Tak patah semangat, dengan keyakinan yang kuat, Ismed memutuskan merantau jauh ke Bangka Belitung
Di tanah rantau Bangka itulah titik balik hidupnya dimulai. Ismed bertemu dengan seorang Kapten Kapal dari perusahaan pelayaran PT Marlina Paluansa Lines yang berkantor pusat di Jalan Fatmawati Blok E, Jakarta Selatan. Dari hubungan persahabatan dengan Kapten Samsudin asal Makassar, pintu rezeki terbuka.
Ismed diperkenankan oleh Direktur PT Marlina Paluansa Lines untuk bekerja sebagai Juru Mudi di TB Marlina II yang saat itu beroperasi di Sulawesi Tengah dengan tujuan Bontang, Kalimantan Timur.
Selama 5 tahun Ismed Harahap mengabdi sebagai Anak Buah Kapal (ABK), mengarungi lautan Selat Makassar dan perairan Kalimantan, menghadapi ombak dan kerasnya hidup di atas kapal.
Namun rindu kampung halaman tak terbendung. Akhirnya Ismed memutuskan untuk pulang kampung ke Sihepeng.
Sepulang dari perantauan, Ismed diterima sebagai guru honorer Bahasa Inggris di SD Negeri 002 Sihepeng Di sekolah itulah ia menemukan jodoh, pendamping hidupnya, yaitu putri sulung dari kepala sekolahnya yang kala itu sama-sama berstatus tenaga honorer.
Setelah menikah, realita hidup harus dihadapi. Gaji honorer yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga membuatnya harus berpikir keras.
Pada tahun 2005, Ismed memutuskan banting setir memilih profesi sebagai jurnalis, di bawah bimbingan almarhum Gongmatua Nasution, S.Pd asal Gunung Tua, Panyabungan. Dunia jurnalistik inilah yang kemudian membesarkan namanya hingga dipercaya memimpin Media Liputan9.co
Perjalanan Spiritual: Menemukan Jalan Tasawuf
Kesuksesan di dunia profesi tidak membuat Ismed lupa akan sisi spiritual.
Di akhir tahun 2023, Ismed memutuskan memperdalam kajian agama di bidang tasawuf dengan mengikuti Suluk di Rumah Ibadah Suluk (RIS) Darul Falah, Desa Huta Puli, Kecamatan Siabu
Ia masuk dalam Tariqot Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah, salah satu tariqot besar yang berpusat di Sumatera Utara.
“Sampai saat ini saya sudah mengikuti puluhan kali suluk. Ketenangan yang saya cari ada di sini,” ujar Ismed.
Ismed memiliki niat kuat untuk mengkhatamkan suluknya pada tahun 2025, namun keinginan itu belum tercapai karena Allah mungkin belum meridhoi
Namun tekadnya tetap bulat. Jika Allah menghendaki, Ismed Harahap berniat, insyaallah ingin mengkhatamkan kaji suluknya di Pusat Tariqot Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah di Bandar Tinggi, Kabupaten Simalungun pada tahun 2027 mendatang
“Target saya khatam di pusat, di Bandar Tinggi tahun 2027 ini. Mohon doanya,” tutupnya dengan penuh harap.
Penulis : Kh,M, Zainal Arifin 4461













