NewsTv – Event berskala besar semakin menempati posisi strategis dalam pengembangan pariwisata nasional, terutama karena kemampuannya membentuk citra destinasi dan meningkatkan daya saing pariwisata melalui pengalaman kolektif yang diciptakan bagi pengunjung. Festival musik, olahraga, dan budaya tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga mendorong mobilitas wisatawan, meningkatkan tingkat hunian akomodasi, serta menggerakkan ekonomi lokal dan industri kreatif. Dalam perkembangan pariwisata modern, event kerap dipahami sebagai instrumen penting untuk membangun citra destinasi dan memperkuat daya saing pariwisata suatu negara, sebagaimana juga ditegaskan dalam berbagai dokumen kebijakan pariwisata nasional Indonesia yang menempatkan event sebagai penggerak ekonomi kreatif dan promosi destinasi (Kemenparekraf RI, 2022).
Namun, meningkatnya kesadaran global terhadap isu lingkungan, keadilan sosial, dan tata kelola berkelanjutan membuat keberhasilan event tidak lagi diukur semata dari dampak ekonomi, melainkan juga dari konsistensi nilai dan tata kelola yang mendasarinya (Bramwell & Lane, 2023). Publik mulai mempertanyakan bagaimana sebuah acara dibiayai, nilai apa yang dibawa oleh mitra sponsor, serta sejauh mana penyelenggaraan event selaras dengan prinsip keberlanjutan. Artikel ini membahas dilema tersebut melalui kasus Pestapora 2025, dengan menyoroti hubungan antara sponsorship, citra keberlanjutan, dan kepentingan ekonomi dalam praktik pariwisata kontemporer.
Pestapora 2025 sebagai Event Pariwisata
Pestapora 2025 merupakan salah satu festival musik terbesar di Indonesia yang mengusung narasi kebersamaan, keberagaman, dan kepedulian sosial. Festival ini banyak diliput oleh media nasional sebagai bagian dari ekosistem event kreatif yang berkontribusi terhadap pengembangan pariwisata perkotaan dan ekonomi kreatif Indonesia (Kompas.tv, 2025). Kehadiran puluhan ribu pengunjung dari berbagai daerah menjadikan Pestapora sebagai penggerak sektor transportasi, akomodasi, kuliner, serta industri kreatif, sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang menempatkan event sebagai instrumen promosi destinasi dan penguatan ekonomi kreatif nasional (Kemenparekraf RI, 2022; 2023).
Di balik dampak positif tersebut, Pestapora 2025 juga memicu perdebatan publik terkait keterlibatan sponsor dari sektor industri ekstraktif. Isu ini mencuat setelah sejumlah musisi menyatakan penolakan dan menarik diri dari festival sebagai bentuk kritik terhadap keterlibatan sponsor tersebut. Pemberitaan media nasional mencatat bahwa tekanan publik dan komunitas musik mendorong penyelenggara untuk akhirnya memutus kerja sama dengan sponsor yang dipersoalkan (ANTARA News, 2025).
Situasi ini memperlihatkan dilema nyata yang dihadapi penyelenggara event besar di Indonesia. Di satu sisi, dukungan sponsor korporasi diperlukan untuk menutup tingginya biaya produksi dan operasional. Di sisi lain, pilihan sponsor membawa implikasi etis dan politis yang dapat memengaruhi legitimasi sosial sebuah event. Kasus Pestapora 2025 menunjukkan bahwa sponsorship tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga simbolik, karena secara langsung membentuk persepsi publik terhadap nilai dan posisi moral festival tersebut di ruang publik Indonesia (ANTARA News, 2025).
Dilema Sponsorship dan Keberlanjutan
Sponsorship memegang peranan penting dalam keberlangsungan event berskala besar. Biaya produksi, honor artis, promosi, dan operasional membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit. Dalam konteks negara berkembang, keterlibatan korporasi besar sering menjadi solusi realistis atas keterbatasan dukungan publik. Namun, ketika sponsor berasal dari sektor yang dipersepsikan bertentangan dengan nilai keberlanjutan, muncul pertanyaan mengenai batas kompromi antara kebutuhan ekonomi dan tanggung jawab sosial.
Kasus Pestapora 2025 menunjukkan bagaimana sponsorship tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga simbolik. Dukungan sponsor memberikan legitimasi sosial bagi perusahaan, sekaligus memengaruhi citra event di mata publik. Oleh karena itu, pilihan sponsor menjadi bagian dari pesan politik dan nilai yang secara tidak langsung disampaikan melalui sebuah acara pariwisata.
Greenwashing dan Simbolisme Keberlanjutan
Dalam penyelenggaraannya, Pestapora 2025 menampilkan berbagai simbol keberlanjutan, seperti kampanye ramah lingkungan dan pesan solidaritas sosial. Namun, kritik publik menunjukkan bahwa keberlanjutan sering kali dipraktikkan pada level simbolik dan komunikasi, sementara aspek struktural seperti sumber pendanaan jarang menjadi perhatian utama. Kondisi ini membuka ruang bagi praktik greenwashing, yaitu upaya membangun citra ramah lingkungan tanpa perubahan mendasar dalam praktik ekonomi dan relasi kekuasaan, sebuah fenomena yang banyak dibahas dalam konteks pemasaran dan pariwisata berkelanjutan
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada Pestapora, tetapi juga pada banyak event besar di tingkat global. Keberlanjutan kerap menjadi bagian dari strategi branding, bukan sebagai komitmen menyeluruh yang memengaruhi seluruh rantai penyelenggaraan acara.
Kesadaran Publik dan Generasi Muda
Perdebatan seputar Pestapora 2025 mencerminkan meningkatnya kesadaran kritis masyarakat, khususnya generasi muda, yang semakin mempertimbangkan aspek etika dan tanggung jawab sosial dalam memilih hiburan dan aktivitas wisata (OECD, 2022). Kelompok ini semakin mempertimbangkan aspek etika, konsistensi nilai, dan tanggung jawab sosial dalam memilih hiburan dan aktivitas wisata. Event pariwisata tidak lagi dipandang sebagai ruang netral, melainkan sebagai arena di mana kepentingan ekonomi, politik, dan nilai sosial saling berinteraksi.
Dalam konteks ini, sponsorship berperan penting dalam membentuk persepsi publik. Melalui keterlibatan dalam event populer, perusahaan dapat membangun kedekatan emosional dengan audiens muda sekaligus memperkuat citra positifnya, strategi yang sering digunakan oleh industri kontroversial untuk mempertahankan legitimasi sosial di tengah tekanan publik (Doh, Tashman, & Benischke, 2023). Hal inilah yang membuat sponsorship dari industri kontroversial menjadi isu sensitif dan memicu perdebatan yang lebih luas tentang etika dalam industri pariwisata dan hiburan.
Pariwisata sebagai Ruang Politik Global
Sebagai bagian dari industri kreatif yang terhubung dengan arus global, event pariwisata tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik dan ekonomi global, khususnya dalam konteks peran aktor non-negara dan agenda pembangunan berkelanjutan global seperti SDGs (UN General Assembly, 2021; UNWTO, 2023). Keterlibatan korporasi multinasional, narasi keberlanjutan, serta pengaruh agenda global seperti pembangunan berkelanjutan menjadikan event pariwisata sebagai ruang di mana aktor non-negara memainkan peran penting.
Kasus Pestapora 2025 menunjukkan bahwa ketika regulasi nasional terkait sponsorship berkelanjutan belum jelas, logika pasar cenderung lebih dominan dibandingkan komitmen normatif, meskipun dalam berbagai dokumen kebijakan, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah mendorong integrasi prinsip keberlanjutan dalam pengembangan event pariwisata dan ekonomi kreatif (Kemenparekraf RI, 2022; 2023). Hal ini mencerminkan adanya jarak antara wacana keberlanjutan di tingkat global dan praktik di lapangan, khususnya dalam sektor event pariwisata.
Penutup
Pestapora 2025 memperlihatkan bahwa tantangan utama pariwisata berkelanjutan tidak hanya terletak pada pengelolaan teknis acara, tetapi juga pada aspek pendanaan dan kemitraan. Keberlanjutan tidak cukup diwujudkan melalui kampanye atau simbol semata, melainkan perlu tercermin dalam konsistensi nilai antara pesan yang disampaikan dan praktik yang dijalankan.
Ke depan, penyelenggara event perlu menetapkan standar keberlanjutan yang lebih jelas dalam pemilihan sponsor, sementara pemerintah dan lembaga pariwisata dapat mendorong kebijakan insentif bagi korporasi yang memiliki komitmen nyata terhadap lingkungan dan masyarakat (UNWTO, 2023; Kemenparekraf, 2023).
Tanpa pembenahan pada aspek sponsorship, klaim pariwisata berkelanjutan berisiko kehilangan makna. Kasus Pestapora 2025 menunjukkan bahwa konsistensi antara pesan dan praktik merupakan kunci agar event besar benar-benar menjadi bagian dari solusi pembangunan pariwisata berkelanjutan.


