DAERAH  

Makkaraeng daeng Mammeta Bersama I fatimah Makuntu

Makkaraeng daeng Mammeta Bersama I fatimah Makuntu | NEWS TV
Makkaraeng daeng Mammeta Bersama I fatimah Makuntu | NEWS TV

Newstv sul- sel – Ifatimah Daeng Takontu adalah putri dari Raja Gowa ke-XVI I Mallobasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin dari istrinya I Daeng Talele, salah seorang bangsawan dari Sanrobone.dan melahirkan anak bernama I Fatimah lahir pada 10 September 1659. I Fatimah Daeng Takontu, kawin sama  IMakkaraeng daeng mammeta lahir 10 November 1657 setalah beranjak dewasa keduanya mewarisi sifat keberaniannya ayahnya juga telah ia miliki.

Makkaraeng daeng Mammeta Bersama I fatimah Makuntu | NEWS TV

Ilmu bela diri yang diturunkan oleh Sultan Hasanuddin kepada I Fatimah Daeng Takontu maupun IMakkaraeng daeng mammeta mempelajari  Tubarani adalah Tunrun Tallua, Ilmu Bombang Tallua serta Ilmu Tallunlamaka Nammattung, Silamaka Nassa’ra Talang.

I Fatimah sejak masa pemerintahan ayahandanya (1653-1669) dan suami IMakkaraeng daeng mammeta 1767 – 1769 (hanya memerintah hanya 2 tahun) selanjutnya mereka gerilya dan bangkit sebagai pelopor pergerakan kaum wanita dan suaminya sebagai pelopor kain laki laki  dalam membela wilayah kekuasaannya kerajaan dari pengaruh penjajah Belanda. I Fatimah kala itu, diangkat sebagai pimpinan pasukan Srikandi dan suaminya diangkat sebagai pimpinan pasukan macam kebo RI tallo dan istrinya yang terkenal dengan nama pasukan Balira.

Makkaraeng daeng Mammeta Bersama I fatimah Makuntu | NEWS TV

Pasukan Balira ini, bersenjatakan balira yakni salah satu alat yang dipakai orang-orang tua dulu untuk bertenun kain. Panjangnya sekitar 1,5 meter, mirip pedang, tapi tidak tajam, namun keistimewaan balira ini, mampu menembus ilmu kebal dari musuh dan suaminya IMakkaraeng daeng mammeta mempunyai senjata yang dikenal nama lagecong 

Konon, menurut kepercayaan dari masyarakat Gowa, senjata balira ini memiliki kesaktian yang luar biasa. Senjata ini tidak melukai, hanya bila seseorang terkena pukulan balira, mereka tidak mendapatkan keselamatan dan akan terus menderita sakit seumur hidup. Itulah alasannya, musuh yang tahu tentang senjata balira ini, mereka lebih takut berhadapan pasukan bersenjata balira dibanding dibanding dengan senjata tajam atau senjata api begitu pula senjata suaminya lagecong senjata yang tidak punya lawan hanya satu dan apabila pertempuran malam hari tidak ada orang kebal apabila kenah lagecong ini .

Setiap menghadapi pertempuran, pasukan balira ini juga selalu diikutkan. Hanya saja, mereka selalu dikawal oleh pasukan Tubarani yang didominasi oleh kaum lelaki yang dipimpin sama suaminya IMakkaraeng , Pasukan Srikandi ini, tak hanya bersenjata balira, tapi dilengkap dengan senjata tajam atau senjata api bila ada. Di pinggangnya terselip sebilah keris pusaka atau badik dan bilamana pertempuran dari jarak dekat, maka senjata tajam ini bisa digunakan untuk melukai lawan.

Makkaraeng daeng Mammeta Bersama I fatimah Makuntu | NEWS TV

I Fatimah Daeng Takontu yang memimpin pasukan balira, telah berhasil melalukan penyerangan di berbagai tempat di wilayah Kerajaan Gowa. Walaupun semuanya dari kaum hawa, tetapi mereka terlihat gagah berani dalam menghadapi musuh-musuhnya, sehingga salah seorang penyair Belana menjuluki I Fatimah dengan julukan “Garuda Betina dari Timur dan suaminya macam harimau dari timur “. Sedangkan ayahnya Sultan Hasanuddin dijuluki sebagai “Ayam Jantan dari Timur”.

perjuangan I Fatimah makuntu anak Mallobasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin Raja Gowa ke XVI dikawinkan dengan sepupunya sendiri I Makkaraeng daeng Mammeta Karaeng Katangka Sultan Zainuddin Tumenanga Ri Mattoanging

Makkaraeng daeng Mammeta Bersama I fatimah Makuntu | NEWS TV

Karna kesibukan melawan penjajah maka beliau hanya mempunya anak tiga orang perempuan tapi dua anaknya meninggal dunia diumur 7 dan 5 tahun disebabkan perang gerilya bersama suaminya waktu masa itu jadi anak beliu hidup sisa satu yaitu Sitti hadiah daeng bollo ( Karaeng Bollo.) Sampai keduanya meninggal dunia I makkaraeng daeng Mammeta hanya mempunyai satu istri sampai akhir hayatnya dan anaknya semata wayangnya  dititipkan sama keluarganya yang bernama Mamma daeng marewa dan anak beliu dikawinkan sama anak mamma daeng marewa yaitu Abdul Gani daeng Malibu hasil perkawinan antara Abdul Gani daeng Malibu dengan Sitti hadiah daeng bollo juga melahirkan anak semata wayang yaitu M.Satta Gani daeng mangerang kawin dengan cucu raja Bone Sitti RUGAYA daeng ngai hasil perkawinannya lahir anak bernama H.andi Syafri Karaeng Djarung 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *