Newstv.id, Sleman – Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memang selalu punya cerita yang menarik untuk diketahui. Namun, kali ini bukan cerita tentang jambret maupun Hogi yang dijadikan tersangka karena melindungi sang istri dari penjambret.
Lantas, cerita satu ini mengenai tentang tempat pijat yang menyuguhkan pelayanan plus-plus. Kabupaten Sleman ternyata tersimpan banyak praktek pijat yang memberikan pelayanan ganda. Para penyedia jasa pijat ini sebagian besar wanita dan memilih Ruko-ruko maupun rumah kontrakan sebagai tempat bekerja.
Maraknya keberadaan tempat pijat tersebut dikeluhkan masyarakat sekitar khususnya kalangan ibu-ibu, karena tempat pijat ini kental sekali dengan praktek prostitusi atau layanan plus-plus.
“Tentu kami ibu-ibu ini khawatir suami ataupun anak lajang kami terjerumus ke sana, sebab keberadaan dan operasional panti pijat ini tidak ada batasan. Siapa saja bebas keluar masuk,” keluh sejumlah ibu-ibu di daerah Kecamatan Tempel, Sleman, Selasa (17/2/2026).
Satu diantara ibu-ibu bernama Siti (55), mengakui jika keberadaan tempat pijat yang menawarkan plus-plus sudah terang-terangan terbuka secara bebas. Meski tampak dari luar, lokasi panti pijat ini tidak menyerupai lokalisasi tetapi setelah berada di dalam ruangan baru ditawarkan layanan plus-plus.
“Dari luar tempat lihatnya memang tidak menyolok. Nanti kalau sudah masuk ruangan baru ditanya. Mau apa mas. Diisap atau langsung dimasukin. Biayanya sekian Rp350.000 layanan full, kalau hanya pijat dan isap Rp150.000 per jam,” kata Siti.
Selain Siti, Daryono (44), Seyegan, Sleman mengaku pernah mencoba datang di salah satu tempat pijak Jalan Magelang – Yogyakarta, Tempel sebagai pelanggan untuk memastikan keresahan ibu-ibu.
“Ternyata benar adanya praktek prostitusi di dalamnya. Layanan pijat hanya modus saja, layanan yang sesungguhnya adalah protitusi,” tegas Daryono, saat berbincang dengan newstv.id di bangunan pasar kuliner Kalurahan Margomulyo, Selasa (17/2/2026).
Daryono mengakui para pekerja pijat tersebut diyakini tidak memiliki skill atau kemampuan dalam memijat. Hal diketahui saat dirinya memijat sama sekali tidak pas bahkan cenderung asal-asalan dan sakit.
“Yang saya amati tujuannya untuk menggaet pelanggan ke sana ya transaksi protitusi terselubung itu,” sebut Daryono.
Dijelaskannya, dalam ruangan pijat ada kamar disekat-sekat seperti bilik. Pelanggan dilayani oleh wanita di dalam bilik tadi. Pelanggan diminta lepas semua pakaian lalu ditutup handuk pada bagian tengah.
Bicara soal keresahan ibu-ibu atas menjamurnya panti pijat plus ini, Daryono berharap pihak Pemkab Sleman segera menertibkan. Apa lagi sedang memasuki bukan suci Ramadhan. Diharapkan praktek pijat seperti ini tidak mengganggu suasana bulan suci Ramadhan.
Warga Sleman juga berharap ada pengawasan dan tindakan dari instansi pemerintah agar keberadaan lokasi prostitusi berkedok panti pijat ini segera ditertibkan. (Islami)













