News TV, TIONGKOK – Marriage market atau pasar jodoh di Taman Rakyat, Shanghai, Tiongkok (China) menjadi tradisi unik yang menjadi perhatian publik. Para orang tua proaktif ”memasarkan” anak mereka agar segera mendapat pasangan untuk menikah. Fenomena yang telah terjadi sekitar dua dekade tersebut disebut merupakan efek dari kebijakan pemerintah lama, yakni cukup satu anak pada 1979 dan berakhir pada 2015.
Dilansir dari detik.com yang mengutip media Tiongkok, CNA, setiap akhir pekan, sudut Taman Rakyat di Shanghai. Di sepanjang jalur taman People’s Park, lembaran-lembaran kertas ditempel di payung, tas, hingga dibentangkan di lantai. Isinya detail status anak mereka, mulai dari usia, pekerjaan, tinggi badan, hingga kepemilikan aset. Tak jarang, si anak sendiri tidak tahu datanya dipajang.
Tak hanya orang tua, agen perjodohan hingga para lajang dari berbagai usia juga ikut meramaikan. Urgensi para orang tua itu mencerminkan kekhawatiran nasional terkait menurunnya angka pernikahan dan kelahiran di Tiongkok. Berdasar data terbaru yang dirilis pekan lalu, Tiongkok mencatat 6,76 juta pernikahan sepanjang 2025. Angka itu naik 10,8 persen dibandingkan 2024 saat mencatat rekor terendah.
Meski begitu, tren kenaikan tersebut terjadi setelah penurunan selama satu dekade. Jumlah pernikahan tahun lalu masih sekitar setengah dari 12,25 juta pernikahan yang tercatat pada 2015. Dalam budaya Tiongkok, pernikahan dan kelahiran masih sangat berkaitan. Sementara itu, angka kelahiran juga jatuh ke rekor terendah, yakni 7,92 juta bayi pada 2025.
Kondisi itu menjadi sorotan karena Tiongkok tengah menghadapi populasi yang menua dengan cepat. Di People’s Park, seorang pria lanjut usia menjadi sosok yang cukup dikenal. Awalnya ia datang untuk mencarikan pasangan bagi putrinya. Kini, ia hampir selalu hadir setiap akhir pekan, bahkan membantu orang tua lain memahami pembagian area, seperti untuk lajang muda, lajang lebih tua, hingga mereka yang pernah belajar di luar negeri.
Menurutnya, generasi muda memiliki pandangan berbeda tentang pernikahan, terutama setelah era kebijakan satu anak yang diberlakukan pada 1979 dan berakhir pada 2015. ”Berbeda dengan kami yang tumbuh bersama saudara kandung dan sangat menghargai ikatan keluarga, generasi setelah 1980-an tidak punya ‘aset’ itu. Mereka sangat independen, mungkin itu yang membuat pernikahan sekarang jadi lebih kompleks,” ujarnya, dikutip dari CNA.
Pemerintah China telah meluncurkan berbagai insentif untuk mendorong pernikahan. Sejak Mei 2025, pasangan diperbolehkan mendaftarkan pernikahan di mana saja di seluruh negeri, mengakhiri aturan lama yang mewajibkan pencatatan di kampung halaman. Sejumlah provinsi juga menawarkan cuti menikah hingga satu bulan serta insentif tunai. (dtc/mmr)
