Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Salah satu ajaran dalam Thoriqat terutama THORIQAT NAQSYABANDIYAH ,maka ada salah satu kafiyat sebelum berzikir yaitu untuk menghadirkan robithoh.
Baiklah saya akan menjelaskan tentang makna robithah (رَابِطَة) dalam ajaran Thoriqat, khususnya dalam konteks tasawuf dan suluk.
Berikut penjelasan yang mendalam beserta dalil, dasar syar‘i, dan pandangan para ulama sufi agar tidak salah faham dalam menyikapinya.
📌 MAKNA DASAR ROBITHOH….
Secara bahasa, rabithoh berasal dari kata
رَبَطَ – يَرْبِطُ – رَبْطًا yang berarti mengikat, menyambung, atau menghubungkan.
Dalam konteks thorikat (ṭarīqah), rabithoh berarti:
Menghubungkan hati murid (sālik) dengan hati mursyid yang arif billāh, dengan niat agar mendapat pancaran nur (cahaya) ma‘rifat dan bimbingan ruhani yang bersambung hingga kepada Rasulullah ﷺ.
📌 DASAR DASAR HUKUM DALAM MENGHADIRKAN ROBITOH …
Dalil dari Al-Qur’an :
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
Artinya: Bersabarlah engkau (wahai Muhammad) bersama orang-orang yang berdoa kepada Tuhannya pagi dan petang karena mengharap keridaan-Nya.”(QS. Al-Kahfi ayat 28)
🔹 Makna isyarat ayat ini :
Ayat ini menunjukkan perintah untuk tetap bersahabat, duduk bersama, dan menyatukan hati dengan para ahli dzikir — itulah hakikat rabithah, yaitu mengikat hati kepada orang-orang yang senantiasa berdzikir dan mengenal Allah.
Dan lagi firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur (ṣādiqīn).(QS. At-Taubah ayat : 119)
🔹 Makna isyarat ayat :
Perintah “kunū ma‘aṣ-ṣādiqīn” bukan hanya fisik, tetapi batin — yakni agar hati selalu terikat dengan para ṣādiqīn, orang-orang yang benar dalam makrifat dan suluk kepada Allah.
Dan lagi firman Allah dalam Al Qur’an tentang robithah al-qalbiyyah (ikatan hati).
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ
Artinya:
“Dialah Allah yang mempersatukan hati mereka; sekiranya engkau (Muhammad) membelanjakan seluruh (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya engkau tidak akan dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah-lah yang mempersatukannya.(QS. Al-Anfāl ayat : 63)
🔹 Makna isyarat ayat :
Ikatan batin antara murid dan mursyid adalah bagian dari ta’līf al-qulūb (persatuan hati) yang hanya bisa terjadi dengan izin Allah.
Maka rabithah bukan penyembahan kepada guru, tapi pengikatan hati karena Allah.
Dalil dari Hadis nabi :
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
«الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ»
(رواه البخاري ومسلم)
Artinya: Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai.”(HR. Bukhari dan Muslim)
🔹 Makna isyarat hadist:
Jika murid mencintai mursyid karena Allah, maka hatinya akan tersambung kepada mursyid, bahkan ia akan dikumpulkan bersama dalam derajat ruhani yang sama di sisi Allah. Inilah rabithah al-maḥabbah (ikatan cinta ruhani).
📌 PANDANGAN PARA ARIF BILLAH TENTANG ROBHITOH
🕊️ Imam al-Qusyairī (Risālah al-Qusyairiyyah) mengatakan:
“Seorang murid tidak akan sampai kepada Allah kecuali dengan bimbingan seorang mursyid. Maka hendaklah ia menyatukan hati dan pandangan kepada mursyidnya dalam segala keadaan.”
🕊️ Imam Ahmad ar-Rifā‘ī mengatakan:
“Lihatlah mursyidmu dengan pandangan adab dan kasih, bukan karena jasadnya, tapi karena dia cermin tempat tajalli cahaya Allah.”
🕊️ Syaikh Bahā’uddīn an-Naqsyabandī qaddasallāhu sirrah mengatakan:
“Rabithah itu adalah menyatukan ruh dengan ruh mursyid, agar hati senantiasa hadir di hadhrat Allah, bukan berhenti pada mursyid.”
📌 TUJUAN DAN ADAB DALAM MENGHADIRKAN ROBITHOH
1. Menghadirkan mursyid dalam hati sebelum dzikir, bukan untuk disembah, tapi agar hati terarah pada Allah melalui jalan yang tempuh oleh Mursyid.
2. Mengingat dan menghadirkan wajah mursyid hanya sebagai perantara tajallī an-nūr al-ilāhī.
3. Tidak boleh menjadikan mursyid sebagai tujuan, sebab mursyid hanyalah wasīlah menuju Allah ﷻ.
Berikut Dalil dalam Al Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) untuk mendekat kepada-Nya.”
(QS. Al-Māidah ayat : 35)
Jadi Kesimpulannya :
Hubungan ruhani antara murid dan mursyid
Hukumnya adalah Sunnah bagi salik yang menempuh jalan suluk dengan mursyid kamil dan, Batasannya Tidak boleh menganggap mursyid sebagai Tujuan namun hanya wasilah untuk menuju kepada Allah.
📌 . NIAT DALAM MENGHADIRKAN ROBITOH
Pertama-tama, niatkan dalam hati:
نَوَيْتُ الرَّابِطَةَ بِشَيْخِي لِوَصْلِ قَلْبِي بِقَلْبِهِ لِوَصْلِ قَلْبِهِ بِقَلْبِ رَسُولِ اللهِ ﷺ لِوَصْلِ قَلْبِ رَسُولِ اللهِ ﷺ بِرِضَاءِ اللهِ تَعَالَى.
Artinya:
“Aku niatkan robithah kepada syaikhku, untuk menyambungkan hatiku dengan hatinya, dan hatinya dengan hati Rasulullah ﷺ, agar tersambung kepada keridhoan Allah Ta‘ala.”
🔹 Tujuan: bukan menyembah mursyid, tapi menjadikan mursyid sebagai wasilah ruhani menuju Allah dan Rasulullah ﷺ.
🔹 Hakikatnya: hati murid dihubungkan dengan hati mursyid, lalu dengan Rasulullah ﷺ, hingga sampai kepada Allah ﷻ.
📌 …CARA MENGHADIRKAN ROBITOH
Para masyayikh mengajarkan beberapa langkah yang harus ditempuh dalam menghadirkan robithoh sebelum BERZIKIR yaitu sebagai berikut:
Langkah 1 — Hadirkan wajah mursyid dalam hati
Bayangkan dengan lembut wajah mursyid Anda bukan karena rupa fisiknya, tetapi sebagai lambang dari nur dan bimbingan ruhani yang bersambung kepada Rasulullah ﷺ.
Rasakan cinta, hormat, dan adab kepada beliau lalu katakan dalam hati:
“Wahai syeikh ku, aku hadir dengan adab, mohon bimbinganmu menuju hadhrat Allah.”
( Ini disebut “rabithah al-maḥabbah” — ikatan kasih ruhani)
Langkah 2 — Hubungkan hati Anda dengan hatinya syekh anda
Bayangkan nur keluar dari hati mursyid menuju hati Anda, mengisi dada dengan cahaya lembut, menenangkan, dan menuntun Anda untuk menyebut “Allāh… Allāh…” dengan khusyuk.
( Bukan Anda yang melihat mursyid, tapi rasa mursyid hadir di hati Anda, menuntun Anda dalam dzikir)
Langkah 3 — Sadarkan bahwa syekh mursyid hanyalah sebagai perantara.
Setelah robithah terasa hadir, lupakan bentuk mursyid, arahkan pandangan batin ke hadhrat Allah Ta‘ala.
Rasakan bahwa bimbingan mursyid hanyalah cahaya petunjuk menuju Allah, bukan tujuan akhir.
Sebagai mana Allah berfirman dalam Al Qur’an
“وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ”
“Carilah jalan (wasilah) untuk mendekat kepada-Nya.” (QS. Al-Māidah ayat : 35)
Langkah 4 . Dzikir Setelah Rabithah
Setelah robithah hadir dengan sempurna maka rasakan hati terasa lembut, Dan mulailah berdzikir dalam qolbu “الله الله الله…” dalam qolbu ( sesuai kadiyat yang di ajarkan syekh )
Rasakan setiap sebutan itu bergetar di dalam qolbu, seolah-olah berasal dari hati mursyid yang menyatu dengan qolbu Anda, jangan paksa muncul rasa, biarkan ia mengalir dengan tenang.
Jika robithah hilang di tengah dzikir, maka kembalikan perlahan rasa cinta dan kehadiran mursyid hingga hati kembali hidup.
📌 . ISYARAT RUHANINDARI PARA MASYAIKH
🕊️ Syaikh Bahauddin Naqsyaband berkata:
“Rabithah adalah jembatan antara murid dan mursyid. Barang siapa tidak melaluinya, ia terputus dari jalan ruhani.”
🕊️ Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qaddasallāhu sirrah berkata:
“Jangan lihat guru dengan mata jasad, tetapi lihatlah dengan mata hati. Karena dari hati itulah mengalir rahmat dan petunjuk Allah.”
📌 TANDA ROBHITOH YANG BENAR
Jika robithoh telah benar maka hati menjadi tenang dan Dzikir terasa lembut, tidak tergesa-gesa.
Rasa Cinta akan tumbuh kepada mursyid dan Rasulullah ﷺ Tanpa berlebihan.
Khushu‘ dan adab meningkat Terasa malu kepada Allah, Tidak lalai kepada Allah dan Mursyid menjadi cermin untuk menuju Allah
📌. KESALAHAN KESALAHAN YANG HARUS DI HINDARI …
– Menganggap mursyid memiliki kuasa sendiri.
– Menghadirkan wajah mursyid secara jasadi berlebihan (hingga mengalihkan hati dari Allah).
– Meminta pertolongan kepada mursyid secara mutlak tanpa menyandarkan kepada Allah.
Karena mursyid hanyalah jalan, bukan tujuan.
📌. MAKNA UMUM RHOBITOH
Secara lahir, rabithah berarti mengikatkan hati murid kepada mursyid — dengan rasa cinta, adab, dan kepercayaan ruhani (tawajjuh), agar hati murid mendapat pancaran cahaya dari hati mursyid yang telah fana dalam Allah.
Namun secara ḥaqīqah, rabithah bukan semata hubungan antara dua pribadi,
melainkan hubungan ruh dengan ruh, yang akhirnya menjadi hubungan hamba dengan Allah melalui saluran yang suci dan bersambung.
📌.HAQIQAT RHOBITOH MENURUT PADA AEIF BILLAH
🕊️ Imam Bahauddin Naqsyaband qaddasallāhu sirrah berkata:
“الرابطة هي اتصال القلب بالقلب حتى يصل إلى الحبيب الأول.”
“Rabithah itu ialah tersambungnya hati seorang murid dengan hati mursyidnya, hingga sampai kepada Kekasih Pertama (Allah Ta‘ala).”
🔹 Maksudnya, rabithah bukan berhenti pada mursyid, tapi menjadi jalan (sirath) yang menghubungkan hati murid menuju Allah.
Ketika rabithah telah sempurna, mursyid lenyap dalam pandangan, yang tampak hanya Allah semata.
🕊️ Syaikh Ahmad Sirhindi (Mujaddid Alf Tsani) berkata:
“Apabila seorang murid menghadirkan mursyidnya dalam hati dengan penuh cinta dan adab, maka hakikatnya ia sedang menghadirkan sifat-sifat kesempurnaan Rasulullah ﷺ. Dan bila ia teruskan, akan tampak baginya tajallī Dzat Allah yang Maha Suci.”
🔹 Di sini beliau menjelaskan bahwa rabithah adalah jembatan nurani:
Murid ➡️ Mursyid ➡️ Rasulullah ﷺ ➡️Allah.
📌 RHOBITOH ADALAH SEBAGAI TAJALLI NUR ALLAH.
Dalam maqam hakikat, rabithah bukan bayangan atau khayal, tetapi penerimaan pancaran nur (cahaya ilahi) melalui hati mursyid yang telah bersih dari hawa nafsu.
Allah berfirman:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ…
Artinya: “Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang lampu (misykāt) yang di dalamnya ada pelita.” (QS. An-Nur ayat :35)
Penjabaran:
“Allah adalah Cahaya langit dan bumi”: Ayat ini menyatakan bahwa Allah adalah sumber segala cahaya yang ada di langit dan di bumi. Cahaya ini bukan hanya dalam bentuk fisik, seperti matahari atau bulan, tetapi juga sebagai petunjuk dan hidayah-Nya yang memberi penerangan kepada hati, jiwa, dan kehidupan manusia.
“Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang lampu (misykāt)”: Misykāt adalah sebuah tempat atau ruang untuk menempatkan pelita, seringkali berupa ruang kecil yang dapat melindungi cahaya agar tetap terjaga dan tidak padam. Dalam konteks ini, Allah menggambarkan cahaya-Nya dengan analogi pelita yang terletak dalam sebuah lubang pelita yang terlindung. Ini menggambarkan betapa murni dan sempurnanya cahaya Allah, yang tidak tercemar dan bersifat meliputi segala sesuatu.
Ayat ini mengandung makna bahwa Allah adalah sumber segala kebenaran, petunjuk, dan cahaya spiritual yang menerangi kehidupan manusia. Bahkan dalam kegelapan dunia, cahaya-Nya tetap ada untuk memberi hidayah dan mengarahkan umat-Nya.
Para arif menafsirkan bahwa hati mursyid adalah mishkāt (pelita) yang memantulkan cahaya dari lampu yang bersumber dari Allah.
Ketika murid melakukan rabithah, ia sedang membuka cermin hatinya agar menerima pantulan cahaya itu.
Maka hakikat rabithah adalah tajallī nūr al-Haqq melalui wasīlah mursyid.
Maka hakikat rabithah adalah mencintai karena Allah, hingga cinta itu menghapus diri si pecinta (fanā’ fi al-masyrūḥ).
Murid yang benar dalam rabithah akan fana dalam mursyid, kemudian fana dalam Rasulullah ﷺ, lalu fana dalam Allah ﷻ.
📌. TANDA RHOBITOH TELAH MENCAPAI HAQIQATNYA.
Apabila seorang salik telah mencapai haqiqat robhitoh yang sempurna maka akan tampak tandanya.
Berikut tanda tanda nya :
1. Cinta kepada mursyid berubah menjadi cinta kepada Allah.
Murid tidak lagi bergantung pada bentuk atau rupa mursyid, tapi hatinya selalu hadir di hadhrat Allah.
2. Hati menjadi saksi tajallī sifat-sifat Allah.
Dalam setiap zikir dan keadaan, ia merasakan “tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah”.
3. Tidak ada lagi dualitas.
Murid melihat mursyid bukan sebagai “lain” dari Allah, tapi sebagai cermin cahaya Ilahi yang memantulkan sifat-sifat-Nya.
4. Dzikir menjadi hidup tanpa usaha.
Setiap nafasnya berdzikir, bukan karena diucap, tapi karena Allah-lah yang berdzikir dalam dirinya.
Inilah rabithah al-ḥaqīqiyyah — kesatuan nurani yang tidak lagi mengenal “aku” dan “dia”, melainkan hanya Dia (Allah).
📌 APAKAH SAMA TRANSFER NUR DARI MALAIKAT JIBRIL KE DADA RASULULLAH DENGAN TRANSFER NUR DARI SEORANG SYEKH KE DADA MURIDNYA…?
Dalam sebuah Hadis di sebutkan yang berkaitan dengan hubungan spiritual yang sangat erat antara Rasulullah ﷺ dengan sahabat terdekat beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Berikut adalah hadisnya :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّـهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّـهِ ﷺ: “مَا جَعَلَ اللَّـهُ فِي قَلْبِي شَيْئًا إِلَّا وَأَفْرَغْتُهُ فِي قَلْبِ أَبِي بَكْرٍ”.
Artinya: Dari Ibnu Abbas Radhiallahu berkata Rasulullah Saw bersabda “apa apa yang ditumpahkan Malaikat Jibril ke dalam dadaku”maka aku tumpahkan kedalam dada abu bakar.(HR. Al-Bukhari)
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa apa yang beliau terima dari Jibril, maka beliau mentransfernya ke dalam hati Abu Bakar, sahabat yang paling dekat dan paling dipercaya oleh beliau. Hal ini menunjukkan betapa besar kedekatan spiritual antara Nabi ﷺ dan Abu Bakar, di mana Abu Bakar tidak hanya dikenal sebagai sahabat, tetapi juga sebagai seseorang yang memiliki pemahaman batin yang mendalam tentang wahyu dan ajaran-ajaran Nabi ﷺ.
Dengan kata lain, hadis ini mengungkapkan bahwa Abu Bakar adalah penerima cahaya spiritual yang sama yang diberikan kepada Rasulullah ﷺ, meskipun dalam kapasitas yang berbeda. Abu Bakar adalah sahabat yang sangat memahami dan menjaga wahyu serta ajaran Nabi, sehingga beliau adalah orang yang paling layak untuk menerima pengetahuan dan cahaya yang telah diterima oleh Rasulullah ﷺ.
Hadis ini menekankan kedekatan spiritual yang sangat erat antara Rasulullah ﷺ dengan Abu Bakar, serta menunjukkan betapa besar kepercayaan Nabi kepada Abu Bakar dalam hal penerimaan dan pengamalan wahyu.
Abu Bakar dianggap sebagai orang yang paling layak untuk menerima cahaya dan ilmu yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ, karena beliau memiliki kesucian hati dan pemahaman yang mendalam.
Lalu apakah ada persamaan dengan transfer nūr dari seorang syekh ke dalam dada muridnya…?
ini sangat menarik, karena berkaitan dengan konsep spiritual yang dalam, baik dalam ajaran tasawuf maupun dalam hubungan Nabi dengan Malaikat Jibril.
Mari kita coba untuk menjelaskan perbedaan ini.
1. Transfusi Nur dari Malaikat Jibril ke Rasulullah ﷺ:
Malaikat Jibril menurunkan wahyu dan membawa nur atau cahaya dari Allah kepada Rasulullah ﷺ, yang mentransfer ilmu-ilmu ilahiah dan petunjuk hidup bagi umat manusia.
Dalam konteks ini, nur yang diberikan oleh Jibril kepada Rasulullah ﷺ bukanlah hanya ilmu atau pengetahuan, tetapi wahyu yang membawa petunjuk dan kebenaran langsung dari Allah.
Ini adalah transmisi wahyu yang khas dan sangat tinggi derajatnya, yang hanya terjadi antara Nabi ﷺ dan malaikat sebagai utusan Allah.
Proses ini bukanlah sekadar transfer ilmu, melainkan transfer wahyu yang bersifat ilahiah, yang mengandung kebenaran mutlak dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi, karena Rasulullah ﷺ adalah penutup nabi-nabi, yang menerima wahyu yang sempurna.
2. Transfusi Nur dari Seorang Syekh ke Muridnya:
Dalam ajaran tasawuf dan tarekat, seorang syekh yang memiliki maqom spiritual yang tinggi dapat mentransfer nur atau cahaya rohani ke dalam dada muridnya. Nur yang dimaksud di sini adalah cahaya spiritual yang berkaitan dengan kesucian jiwa, pembersihan hati, dan kedekatan dengan Allah. Cahaya ini berfungsi untuk membimbing murid dalam perjalanan spiritual mereka, membimbing mereka menuju ma’rifat (pengetahuan spiritual) dan fana’ (kehilangan diri dalam Tuhan).
Namun, tetap berbeda wahyu yang diturunkan Jibril kepada Rasulullah ﷺ, dengan transfer nur dari seorang syekh kepada muridnya , sebab ini adalah cahaya yang bersifat relatif, bukan wahyu.
Itu adalah cahaya yang bersifat pembimbingan dan penyucian jiwa.
Dalam konteks ini, syekh bertindak sebagai wasilah atau perantara yang membantu muridnya mencapai kedekatan dengan Allah melalui pembersihan jiwa, pengendalian nafsu, dan penerapan ajaran-ajaran spiritual.
Berikut perbedaan nya :
Perbedaan Utama:
– Sumber Nur.
Nur yang diterima oleh Rasulullah ﷺ melalui Malaikat Jibril adalah wahyu langsung dari Allah, yang bersifat sempurna dan mutlak, sementara nur yang diberikan oleh syekh kepada muridnya adalah cahaya spiritual yang membantu murid berkembang dalam kehidupan spiritual mereka.
– Tujuan:
Tujuan transfer nur oleh Jibril adalah untuk membimbing umat manusia melalui wahyu ilahi. Sedangkan tujuan transfer nur oleh syekh adalah untuk pembersihan jiwa dan pembimbingan menuju Allah, yang lebih berfokus pada perjalanan spiritual seorang murid.
– Kedudukan:
Rasulullah ﷺ sebagai Nabi dan utusan Allah menerima wahyu yang membawa seluruh umat manusia menuju kebenaran.
Sebaliknya, syekh adalah seorang pemandu spiritual yang membimbing individu dalam perjalanan menuju kesempurnaan spiritual, tetapi tidak menerima wahyu seperti yang diterima oleh Rasulullah ﷺ.
Kesimpulan:
Meskipun ada kesamaan dalam hal “transfer nur” antara Malaikat Jibril kepada Rasulullah ﷺ dan seorang syekh kepada muridnya ,yaitu transfer cahaya spiritual untuk membimbing seseorang dalam perjalanan menuju Allah, kedua proses ini sangat berbeda dalam hal tujuan, sumber, dan kedudukan. Jibril menurunkan wahyu yang membawa kebenaran ilahi mutlak, sementara syekh memberikan pencerahan rohani yang lebih terkait dengan pembersihan jiwa dan kedekatan dengan Allah, bukan wahyu langsung.
Jadi, meskipun secara metaforis bisa dilihat sebagai transfer cahaya atau nur, keduanya tidak setara dalam makna dan kedudukan, karena wahyu yang diterima Rasulullah ﷺ melalui Malaikat Jibril adalah sesuatu yang tidak dapat dibandingkan dengan apa yang seorang syekh berikan kepada muridnya.
Meskipun terdapat perbedaan yang jelas antara proses transfer nur dari Malaikat Jibril kepada Rasulullah ﷺ dan dari seorang syekh kepada muridnya, Namun ada beberapa persamaan yang bisa kita tarik dalam konteks spiritual dan tasawuf, terutama dalam hal penyucian jiwa dan penerimaan cahaya spiritual.
Berikut adalah beberapa persamaan yang bisa diidentifikasi:
1. Tujuan Spiritual yang Sama.
Penyucian Jiwa dan Kedekatan dengan Allah
Dalam kedua kasus tersebut, tujuan utamanya adalah untuk mendekatkan individu kepada Allah.
Rasulullah ﷺ menerima wahyu dari Jibril untuk menyampaikan kebenaran dan petunjuk Allah kepada umat manusia. Ini membawa umat menuju kedekatan dengan Allah melalui pengamalan wahyu tersebut.
Syekh memberikan nur spiritual kepada muridnya untuk menyucikan jiwa, membersihkan nafsu, dan membimbing mereka menuju ma’rifat Allah (pengetahuan tentang Allah). Tujuan akhirnya adalah mencapai fana (kehilangan diri dalam Allah) dan tawhid (keesaan Allah).
2. Peran Sebagai Perantara
Dalam kedua situasi ini, ada unsur perantara yang sangat penting.
Malaikat Jibril adalah perantara antara Allah dan Rasulullah ﷺ. Ia menyampaikan wahyu dan cahaya ilahi yang menuntun umat manusia.
Syekh juga bertindak sebagai perantara antara murid dan Allah dalam konteks spiritual. Ia mentransfer cahaya spiritual yang membimbing muridnya dalam perjalanan menuju Tuhan.
3. Cahaya Spiritual yang Ditularkan
Dalam kedua proses ini, nur (cahaya spiritual) berperan penting.
Wahyu yang diterima oleh Rasulullah ﷺ melalui Jibril bisa dipandang sebagai cahaya yang menerangi hati dan akal beliau, serta memberikan petunjuk hidup bagi umat manusia.
Nur yang ditransfer oleh syekh juga berfungsi untuk menerangi hati murid, membersihkan jiwa, dan memandu mereka dalam perjalanan spiritual.
4. Proses Transformasi Spiritual.
Kedua proses tersebut berfungsi sebagai proses transformasi spiritual.
Wahyu yang diterima oleh Rasulullah ﷺ membawa perubahan besar dalam hidup umat manusia, mengubah kebingungan dan kegelapan menjadi terang dengan petunjuk yang jelas.
Nur yang diberikan oleh syekh kepada muridnya mengubah keadaan spiritual mereka, membawa mereka dari kegelapan nafsu menuju terang kesadaran spiritual.
5. Keterikatan yang Mendalam.
Ada elemen keterikatan yang mendalam dalam kedua hubungan ini.
Rasulullah ﷺ memiliki keterikatan spiritual yang sangat dalam dengan Jibril, yang membawa wahyu dari Allah.
Murid memiliki keterikatan spiritual yang mendalam dengan syekh mereka, yang membantu mereka dalam perjalanan menuju Allah.
6. Penerimaan dan Kepasrahan.
Baik Rasulullah ﷺ maupun murid yang dibimbing oleh syekh harus memiliki penerimaan dan kepasrahan terhadap cahaya yang ditransfer kepada mereka.
Rasulullah ﷺ dengan penuh penerimaan menerima wahyu dari Jibril, meskipun wahyu tersebut kadang datang dengan beban berat.
Murid, untuk menerima nur dari syekh, harus dalam keadaan terbuka, tawadhu, dan siap untuk menanggalkan ego mereka agar cahaya spiritual itu bisa masuk dengan sempurna.
7. Pemberian Petunjuk dalam Kehidupan.
Wahyu yang diterima oleh Rasulullah ﷺ memberikan petunjuk hidup yang jelas bagi umat Islam untuk mengatur kehidupan mereka sesuai dengan kehendak Allah.
Nur yang diberikan oleh syekh berfungsi untuk memberikan petunjuk dalam kehidupan spiritual murid, menunjukkan mereka jalan menuju Allah dan cara-cara hidup yang sesuai dengan sunnah dan ilmu tasawuf.
Kesimpulan Persamaan:
Secara garis besar, meskipun ada perbedaan yang sangat mendasar dalam hal wahyu dan cahaya ilahi yang diterima oleh Rasulullah ﷺ dan nur yang diberikan oleh syekh kepada muridnya, keduanya memiliki kesamaan dalam hal peran sebagai pembimbing menuju pencerahan spiritual dan kedekatan dengan Allah. Kedua-duanya melibatkan proses transfusi cahaya spiritual, baik dalam bentuk wahyu atau dalam bentuk bimbingan batin, yang bertujuan untuk membawa individu lebih dekat kepada pengetahuan ilahi dan kesucian hati.
KESIMPULAN
Haqiqat robhitah merupakan suatu bentuk ikatan spiritual yang mendalam antara seorang salik dengan mursyid atau guru spiritualnya. Robhitah bukan hanya sekadar hubungan fisik atau emosional, tetapi lebih kepada penghubung batin yang menyatukan hati dan jiwa, yang mengarah kepada penghambaan yang lebih sempurna kepada Allah. Dalam robhitah, hati murid selalu terhubung dengan mursyid, yang menjadi perantara dalam menuntun perjalanan spiritual dan mempercepat proses pembersihan jiwa (tazkiyah). Robhitah mengajarkan kita untuk terus menjaga kesadaran akan Allah dalam setiap langkah dan keputusan hidup, mengingatkan kita akan esensi hidup yang sebenarnya, yaitu beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga dengan menjalankan hakikat robhitah, kita dapat meraih kemurnian hati dan kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat.
Wallahu alam bissowab.
Ismed Harahap (Kh.M Zainal Arifin)













