KABUPATEN BANDUNG – Kondisi fasilitas sanitasi di SMAN 1 Kertasari menjadi sorotan serius berbagai pihak. Sekolah negeri yang selama ini dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan unggulan di wilayah Kertasari tersebut justru menghadapi persoalan mendasar terkait kebersihan dan kelayakan toilet siswa. Kamis /12/02/2026.
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah fasilitas WC dalam kondisi kurang terawat, lantai terlihat becek, kotor, serta minim perawatan. Ketersediaan air bersih pun kerap tidak ada, sehingga siswa kesulitan memenuhi kebutuhan dasar kebersihan menambah ketidaknyamanan.

Situasi ini berdampak langsung pada aktivitas belajar mengajar. Beberapa siswa mengaku terpaksa menahan diri untuk tidak menggunakan fasilitas sekolah atau memilih mencari alternatif di luar lingkungan sekolah. Kondisi tersebut tentu berisiko terhadap keselamatan, kedisiplinan, serta kesehatan peserta didik.
“Sudah cukup lama WC seperti ini. Kadang air tidak ada sama sekali. Kami jadi tidak nyaman,” ungkap salah seorang siswa yang meminta identitasnya dirahasiakan. Siswa lainnya berharap pihak sekolah segera melakukan pembenahan agar fasilitas dasar tersebut kembali layak digunakan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait pengelolaan dan pemanfaatan anggaran sekolah. Sebagaimana diketahui, satuan pendidikan negeri menerima alokasi dana dari berbagai sumber seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Dana Alokasi Pendidikan (DAP), serta bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Salah satu peruntukannya adalah pemeliharaan sarana dan prasarana, termasuk fasilitas sanitasi.
Transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran pun menjadi perhatian publik.
Masyarakat berharap adanya keterbukaan informasi mengenai alokasi dana pemeliharaan serta langkah konkret yang telah atau akan dilakukan pihak sekolah dalam menangani persoalan tersebut.
Pengawasan rutin terhadap sarana dan prasarana seharusnya menjadi bagian dari tanggung jawab manajerial pihak sekolah. Ketidakhadiran unsur pimpinan pada jam kerja dinilai dapat berdampak pada lemahnya kontrol terhadap kondisi lingkungan belajar.
Hingga berita ini diturunkan, pihak SMAN 1 Kertasari belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi sanitasi maupun rencana tindak lanjut perbaikannya. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat diharapkan segera melakukan evaluasi dan pembinaan guna memastikan standar pelayanan minimal benar-benar terpenuhi.
Masyarakat pun mendorong adanya audit internal maupun pengawasan lebih ketat terhadap pengelolaan anggaran pendidikan. Dana yang telah dialokasikan negara semestinya memberikan manfaat nyata bagi siswa, terutama dalam penyediaan fasilitas dasar yang layak.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa mutu pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik dan prestasi lomba, tetapi juga dari kualitas lingkungan belajar yang aman, sehat, dan manusiawi. Perhatian terhadap hal-hal mendasar seperti sanitasi sekolah adalah cermin komitmen bersama dalam membangun generasi muda yang berkualitas. ( Team news tv jabar )






