BERITA  

Publik Pertanyakan Anggaran Kebersihan Terminal Bus Gunung Pring

Publik Pertanyakan Anggaran Kebersihan Terminal Bus Gunung Pring

Newstv.id, Magelang- Persoalan pengelolaan sampah di Terminal Bus Gunung Pring, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Magelang, Jateng, terus menjadi sorotan pengunjung ziarah Makam Para Wali di desa itu.

Puluhan pengunjung hyang datang dari berbagai daerah, menyampaikan kekecewaan mendalam atas keberadaan sampai yang menunjukkan di dalam terminal.

Bukan hanya persoalan bau busuk dan lalat yang mengerumuni sampah tersebut. Jauh dari itu, para pengunjung ini juga mempertanyakan anggaran pengelolaan sangat di terminal itu. Pasalnya, setiap bus yang masuk terminal telah dipungut biaya sebesar Rp50 ribu.

Dalam besaran retribusi yang dikelola Pemdes Gunung Pring ini telah dialokasikan untuk biaya parkir, biaya kebersihan dan keamanan.

“Kalau kita lihat, besaran retribusi yang ditarik dari setiap bus yang masuk terminal tentu tidak sebanding dengan pelayanan kebersihan dan kenyamanan bagi pengunjung,” kata Rohman (44), salah satu pengunjung Makam Wali-wali Gunung Pring asal daerah dari Surabaya, Minggu (18/1/2026) siang.

Ia pun mempertanyakan pengelolaan dana kebersihan yang telah dipungut dari retribusi bus yang masuk terminal. Karena itu Rohman berujar, jika pihak pengelolaan sampah beralasan kekurangan tenaga ataupun armada misalnya, maka tentu tidak masuk akal.

Pasalnya, tumpukan sampah yang ada di dalam terminal ini bukan sampah yang datang hari itu. Tapi sampah ini diduga kuat sudah dua hingga tiga hari menumpuk seperti itu tanpa ada penanganan.

“Yang kasihan pengunjung. Mestinya, pengelola Terminal Bus Gunung Pring ini memperhatikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Apalagi soal sampah adalah salah satu sumber penyakit dan tumpukan sampah-samoah ini berdekatan dengan warung-warung makan di terminal ini,” tegas Rohman kepada awak media newstv.id di Terminal Gunung Pring, Minggu pagi.

Salah satu pengusaha warung makan Terminak Bus Gunung Pring yang minta namanya tudak disebut, juga mengakui jika beberapa pengunjung mengeluhkan bau busuk samah yang menumpuk. Akibat hal ini, banyak pengunjung enggan makan dan minum di warung mereka karena terganggu bau busuk.

Pengelola warung makan ini juga turut mempertanyakan biaya kebersihan. Karena pengelola juga warung makan ternyata juga dikenakan retribusi kebersihan melalui sewa tempat jualan.

Sumber layak dipercaya ini mengatakan bahwa sewa tempat jualan di dalam Terminal Bus tersebut Rp 10 juta per tahun. Kontrak tempat ini langsung kepada Pemdes Gunung Pring.

“Bilangnya sih biaya kontrak tempat sudah termasuk biaya kebersihan. Tapi ini sampah kok menumpuk dan memanjang berjejer di terminal tepat di titik tempat parkir bus,” sebut sumber satu ini.

Seorang pedagang warung makan di terminal ini meminta pihak pengelola terminal lebih transparan lagi terkart pengelolaan sampah berbayar itu. Karena retribusi pengelolaan sampah sumber dananya dipungut dari warga dan peziarah melalui bus yang mengangkut mereka datang di tempat itu. (HMI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *