Tapanuli Selatan, NEWSTV.ID – Malam gelap dan hujan deras yang mengguyur kampung kecil dan sunyi ini terasa semakin sunyi, hanya suara genset yang lamat-lamat dari sudut kampung dan diiringi rintik hujan memanjang sejak siang tadi. Kelamnya kampung ini disebabkan matinya aliran listrik PLN. Seakan malam akan merambat panjang dan perlahan, seperti malam-malam sebelumnya.
Penduduk seperti biasa berdiam tenang di rumah masing-masing, hanya beberapa yang meringkuk di sudut kedai kopi, berbincang dan menikmati dingin malam dengan satu dua teguk kopi hangat. Seolah malam seperti biasa akan lewat dengan penuh damai.
Tetapi tidak malam itu! Sungguh jahanam sedang mengincar! Tiba-tiba menjelang jam 10 sontak gemuruh memecah keheningan. Tanah bergetar dan tebing kebun sawit di Timur kampung itu meluncur bagai roket dengan pendorong full speed super power lepas dari pelontarnya. Tanpa ampun, berkecepatan bagai kilat, mendorong dan merobohkan rumah-rumah warga kampung yang diliputi kalam itu. Jerit tangis sontak pecah di udara, kepanikan yang tiba-tiba bagai kiamat di akhir zaman. Tidak ada waktu untuk berlari dan menyelamatkan diri, tidak ada waktu untuk memohon pertolongan, 22 orang kampung meregang nyawa dan tertimbun hidup-hidup oleh tanah longsor itu hanya dalam sekejap mata. Selebihnya terlempar dan terdorong kuat ke sudut-sudut kampung, basah dan sekujur diselimuti lumpur pekat di malam kelam itu.
Ya! Dua puluh dua nyawa anak manusia tetenggut di malam sunyi itu, entah seperti apa detil kerja malaikat pencabut nyawa bekerja diwaktu genting itu, kuasa Tuhan sedang bekerja dan itu membawa nestapa mendalam bagi keluarga korban yang ditakdirkan selamat dari kiamat kampung itu.
Ya! Kebun sawit milik PTPN III Regional 1 di bukit itulah sebab musababnya, yang dikelola tanpa upaya mitigasi seolah-olah itu hanya urusan takdir yang tidak bisa dihindari. Sedangkan soal takdir itu tidak terhubung, tidak ada urusan dengan tindak tanduk korporasi besar dan jumawa itu.
Kalau kejadian itu di jaman kolonial mungkin saja anggapan itu boleh jadi pegangan. Tetapi ini jaman serba teknologi, semua tindakan korporasi, apalagi sebesar PTPN III yang sudah puluhan tahun bahkan punya akar historis beroperasi ratusan tahun di kawasan ini punya track record (catatan penting dan terperinci) perihal upaya penyelamatan manusia di lingkungan berbukit dan basah yang dulu disebut Afdeeling Hapesong ini.
Kalau manajemen PTPN III berdalih musibah itu disebabkan kondisi alam semata, itu artinya dia telah melakukan pengabaian ancaman lingkungan Hapesong yang selalu berpotensi menimbulkan kerugian terhadap harta benda apalagi nyawa manusia. Selayaknya sebagai korporasi besar dia mampu melakukan pemantauan baik berkala dan detil terhadap seluruh sumber daya yang dikuasainya di kawasan itu. Pemantauan pergerakan tanah itu bisa saja dilakukan dengan memanfaatkan IOT (internet of Things). Dia semestinya mampu dan wajib melakukan upaya mitigasi atas semua potensi ancaman di lingkungan kerjanya. Termasuk dan utamanya atas potensi tanah longsor ini. Sebab jika tidak, pegangan Akhlak yang didengungkan itu tentu sejatinya tidak diimplementasikan, tidak diaplikasikan terhadap keselamatan lingkungan kerjanya.
Ya! PTPN III wajib dan sudah semestinya bertanggung jawab atas musibah yang menyebabkan hilangnya 22 nyawa anak manusia dan hancurnya harta benda mereka di Dusun Kampung Durian itu. Tanggung jawab itupun bisa dikejar secara pidana. Jangan main-main kalian! Pak polisi bekerjalah kalian, tidak perlu pengaduan atau pelaporan warga untuk soal ini.
PTPN III seharusnya tidak melalukan pengabaian seperti yang terjadi sekarang ini. Penduduk yang masih hidup dibiarkan berjuang sendiri, tanpa bantuan layak. Membiarkan warga kampung menguburkan sendiri warga mereka yang jadi korban meninggal. Dengan sombong dan angkuh seolah itu bukan urusan manajemen PTPN III, tanpa memberi tenda penampungan layak dan bantuan untuk bertahan hidup kepada warga terdampak yang masih hidup dan tinggal di Kampung Durian itu. Bahkan sekedar penanda lokasi bencana pun tak tampak di gerbang kampung di pinggir jalan lintas Batang Toru – Natal itu. Menyebabkan rombongan Yayasan TABAGSEL Institvte yang mau mengantar barang bantuan untuk Korban bencana Kampung Durian ini, harus tersesat dahulu untuk bisa menemukan pintu masuk kampung ini.
Hei PTPN III! Tanah longsor itu berasal dari bukit kebun sawit kalian! Batang-batang sawit kalian ikut menghimpit tubuh-tubuh 22 anak manusia yang meregang nyawa di malam itu di Kampung Durian, tangan korporasi kalian berlumuran darah, tak sadarkah kalian?
Cukupkah buat kalian hanya membantu evakuasi jenazah yang sudah terkubur kaku di pekarangan kalian itu tanpa memikul tanggung jawab atas hilangnya nyawa-nyawa anak manusia itu? Tanpa jaminan keselamatan warga yang tersisa? Tanpa memberi santunan layak atas kehilangan nyawa itu, tanpa memikirkan kelanjutan sekolah anak-anak korban itu? Dan dengan jumawa duduk di kursi empuk kalian dan puas dimohon-mohonkan aparat dusun untuk dapat secuil perhatian kalian? Ini bukan era kolonial! Jangan berlagak kalian sebagai tuan, yang bermental kompeni di tanah Tapanuli kami! Rakyat kami bukan jongos dan seenak perut kalian bisa diperlakukan semena-mena!
Wahai Danantara, tanggung jawab kalian membina sikap dan pola perilaku organisasi PTPN III ini. Jangan cuci tangan, sungguh bencana TAPANULI SELATAN ini telah menelanjangi perilaku PTPN III, yang tidak bertanggung jawab ini. Bongkar kebobrokan kinerja manajemen PTPN III ini, perbaiki perlakuan kalian kepada para korban bencana di wilayah kerja PTPN III ini.
Sungguh perilaku kolonial di PTPN III ini menyesakkan saya yang mata dan hatinya dibukakan Allah SWT, saat berkunjung dan membawa bantuan ala kadar untuk Korban bencana di Kampung Durian itu, Desa Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur, Tapanuli Selatan.
Ya! Pada kunjungan, Sabtu, 06 Desember 2025 kemarin, hatiku teramat pilu, badanku bergidik, dan bulu romaku meremang saat memandang tanah merah yang telah menutup kampung itu dan menelan harapan hidup saudara-saudara saya warga Kampung Durian itu.
Semoga Allah SWT memaafkan segala kelemahan dan kesalahan warga Tapanuli Selatan atas musibah yang terjadi dan menimpa saudara-saudaraku di Kampung Durian ini. Aamiin.
Sumber: Ayub Suleman Pulungan (Ketua Umum Yayasan TABAGSEL Institvte)













