BERITA  

Aktivis Madina Muhammad Siddik : Bongkar Aktor Utama dan Dugaan Pelindung PETI di Perbatasan Madina -Tapsel

Aktivis Madina Muhammad Siddik : Bongkar Aktor Utama dan Dugaan Pelindung PETI di Perbatasan Madina -Tapsel | Newstv Indonesia
Aktivis Madina Muhammad Siddik : Bongkar Aktor Utama dan Dugaan Pelindung PETI di Perbatasan Madina -Tapsel | Newstv Indonesia

 

Mandailing Natal –Newstv

Aktivis Mandailing Natal sekaligus mantan Sekretaris Jenderal SATMA AMPI Madina, Muhammad Siddik, mengecam keras maraknya aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Tantom, perbatasan Tapanuli Selatan–Mandailing Natal, yang disebut kembali beroperasi menggunakan puluhan alat berat. Laporan media dan penindakan sebelumnya menunjukkan kawasan tersebut memang telah menjadi perhatian aparat dalam beberapa waktu terakhir.

 

Menurut Siddik, apabila benar aktivitas tersebut kembali berlangsung secara terbuka setelah adanya penindakan sebelumnya, maka hal itu patut diduga tidak mungkin terjadi tanpa adanya pihak-pihak yang memberikan perlindungan atau pembiaran.

 

“Publik tidak boleh dibungkam. Jika puluhan alat berat bebas keluar masuk dan mengeruk kawasan perbatasan, maka muncul pertanyaan besar: siapa yang sebenarnya berdiri di belakang aktivitas tersebut? Aparat penegak hukum wajib mengusut hingga ke aktor intelektual, bukan hanya pekerja lapangan,” tegas Siddik.

 

Ia juga meminta aparat menelusuri informasi yang berkembang di tengah masyarakat mengenai dugaan adanya sosok berinisial “LABAN “yang disebut-sebut berperan sebagai pihak yang diduga membekingi atau mengamankan aktivitas tambang ilegal tersebut. Siddik menegaskan bahwa informasi tersebut harus diuji melalui proses penyelidikan yang profesional dan berdasarkan alat bukti yang sah.

 

“Jika dugaan itu tidak benar, buktikan melalui penyelidikan yang transparan. Namun jika benar terdapat keterlibatan pihak tertentu, siapa pun orangnya harus diproses sesuai hukum tanpa pandang bulu,” ujarnya.

 

Siddik menilai kerusakan lingkungan akibat PETI tidak dapat lagi ditoleransi. Sungai, hutan, dan ekosistem di kawasan perbatasan Madina–Tapsel terus menjadi korban akibat aktivitas yang diduga berlangsung secara masif menggunakan alat berat. Ia mengingatkan bahwa pembiaran terhadap praktik tersebut hanya akan memperburuk kerusakan lingkungan dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum.

 

Ia mendesak Kapolda Sumatera Utara, Dirreskrimsus Polda Sumut, serta Kapolres Mandailing Natal agar segera melakukan operasi menyeluruh, mengusut para pemodal, pemilik alat berat, koordinator lapangan, hingga siapa pun yang diduga memberikan perlindungan terhadap aktivitas tambang ilegal.

 

“Negara tidak boleh kalah dengan mafia tambang. Hukum harus hadir dan ditegakkan sampai ke akar. Jangan biarkan kawasan Tantom menjadi simbol lemahnya penegakan hukum di Sumatera Utara,” pungkas Muhammad Siddik.

Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *