Newstv.id, Yogyakarta – Keinginan Markas Besar TNI Angkatan Darat (Mabesad) untuk membentuk Kodam Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), merupakan langkah strategis untuk memperkuat postur pertahanan darat Indonesia.
Kebijakan ini bukan sekadar pemekaran administratif, melainkan bagian dari penyesuaian struktur TNI AD terhadap dinamika geopolitik, ancaman aktual, dan kebutuhan efektivitas komando di lapangan.
Lantas, bagaimana kelanjutan rencana persiapan pendirian Kodam baru di DIY ini?
Dari informasi yang dihimpun di lapangan bahwa persiapan Kodam baru tersebut sudah dalam tahap kajian. Termasuk kajian lahan strategis yang akan ditempati.
Terlepas bicara mengenai rencana lokasi yang akan menjadi pilihan untuk ditempati p bangunan marks Kodam baru tersebut, ini pembagian Korem yang akan dibawahi Kodam baru DIY.
Menurut Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 072/Pamungkas, Mayor Inf Suwito saat wawancara dengan newstv.id, bahwa wilayah yang akan masuk dalam teritorial Kodam DIY jika rencana pendirian Kodam batu ini telah terwujud.
Dikatakan Mayor Inf Suwito bahwa Kodam baru DIY akan membawahi dua Korem. Untuk Korem wilayah timur akan memangku wilayah Klaten, Wonogiri, Sleman, Yogyakarta dan Gunung Kidul.
Sedangkan Korem wilayah barat membawahi Wonosobo, Temanggung, Purworejo, Kulon Progo dan Bantul.
“Hanya saja kita belum tahu nama Korem yang akan dipakai nanti karena harus dilakukan kajian lagi. Tetapi untuk Korem wilayah timur tetap akan memakai Korem Pamungkas,” ujar Kapenrem 072/Pamungkas.
Lantas bagaimana Koren wilayah barat?. Disebutkan oleh Kapenrem bahwa rencana pendirian markas Korem wilayah barat nanti akan di dirikan di wilayah Kabupaten Purworejo.
“Rencananya seperti itu. Hanya saja, apakah nanti akan terjadi perubahan jika Kodam baru ini benar-benar sudah dibentuk atau bagaimana. Kita lihat saja nanti,” tandasnya.
Masih kata Kapenrem bahwa nama Kodam tersebut juga tidak memakai Kodam DIYm Hanya saja nama Kodam yang akan dipakai nanti masih dalam tahap pengusulan dan perumusan. Apakah nanti memakai nama Kodam Sultan Agung atau apa, belum diketahui pasti karena masih tahap perumusan.
“Tidak mudah membuat nama Kodam-nya karena harus ada maknanya. Selain itu lagu marsnya dan arti logo yang akan digunakan nanti, semua harus ada artinya” tambah Kapenrem. (HMI)













