CIANJUR — Dapur yang kotor atau tidak memenuhi standar sanitasi bukan sekadar pelanggaran teknis, melainkan mencerminkan kelalaian moral dari para pelaksana program. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan amanah besar dari Presiden Republik Indonesia dan didukung oleh anggaran besar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Oleh karena itu, setiap Kareg (Koordinator Regional) dan Korwil (Koordinator Wilayah) wajib bekerja dengan integritas, tanggung jawab, dan disiplin tinggi.
Salah satu dapur yang patut menjadi perhatian adalah dapur yang berlokasi di Haurwangi, Kabupaten Cianjur, yang berada di bawah naungan Yayasan Berkah Abadi Sadaya.
Berdasarkan hasil konfirmasi, pengelolaan pembelanjaan bahan makanan, termasuk daging dan kebutuhan gizi lainnya, sepenuhnya dilakukan oleh pihak yayasan.
Namun, beberapa bulan ke belakang terjadi insiden serius, di mana murid sekolah tingkat dasar sdn 1 Gununghalu, Kabupaten Cianjur, menerima makanan dalam kondisi basi. Peristiwa ini terjadi sangat memprihatinkan karena membahayakan kesehatan anak-anak serta mencederai tujuan utama program MBG.

Kejadian ini menunjukkan lemahnya pengawasan, buruknya manajemen dapur, serta tidak dipatuhinya standar kebersihan dan keamanan pangan. Oleh sebab itu, kami mendesak pihak terkait untuk:
Melakukan evaluasi dan audit menyeluruh terhadap dapur MBG tersebut
Menindak tegas pengelola dapur yang melanggar standar sanitasi
Menghentikan sementara operasional dapur yang tidak layak demi keselamatan penerima manfaat
Program MBG tidak boleh dijalankan secara asal-asalan. Kesehatan dan keselamatan anak-anak adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar. ( 07Else )













