BANDUNG BARAT— Kekecewaan mendalam dirasakan masyarakat, khususnya para orang tua siswa, terhadap dunia pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Bandung Barat. Hal ini dipicu oleh dugaan ketidakprofesionalan salah satu kepala sekolah SD yang dinilai jarang masuk dan tidak aktif menjalankan tugasnya sebagai pimpinan sekolah.
Ketidakhadiran kepala sekolah tersebut dinilai telah berlangsung cukup lama dan menimbulkan keresahan di kalangan guru maupun orang tua murid. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak langsung terhadap manajemen sekolah serta kelangsungan kegiatan belajar mengajar, yang seharusnya berjalan secara optimal di bawah kepemimpinan seorang kepala sekolah.
(14/12/2025)
Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), Pasal 23 ayat (6), ditegaskan bahwa setiap Pegawai ASN memiliki kewajiban untuk menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan, serta tindakan, baik di lingkungan kerja maupun di luar lingkungan kerja. Kepala sekolah sebagai pejabat fungsional sekaligus pimpinan satuan pendidikan seharusnya menjadi contoh nyata dalam penerapan nilai-nilai tersebut.
Salah seorang orang tua murid, saat dimintai keterangan oleh awak media, menyampaikan bahwa kepala sekolah yang jarang hadir atau tidak aktif berdampak besar terhadap manajemen sekolah secara keseluruhan. Mulai dari lemahnya pengawasan terhadap guru, kurangnya koordinasi internal, hingga menurunnya kualitas pembelajaran di kelas.
“Kami sebagai orang tua merasa kualitas belajar mengajar anak-anak menurun karena kurangnya arahan dan pengawasan dari pimpinan sekolah. Kepala sekolah seharusnya hadir sebagai penggerak, bukan justru sering tidak ada di tempat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, perwakilan orang tua murid berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat segera turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan ini secara tegas dan objektif. Mereka menuntut adanya kepemimpinan sekolah yang lebih aktif, bertanggung jawab, dan mampu menjadi pendidik, pembimbing, sekaligus penginspirasi bagi guru dan peserta didik.
“Kepala sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan arah dan kualitas pendidikan. Jika figur penting ini jarang hadir, maka kami mempertanyakan bagaimana nasib pendidikan anak-anak kami ke depannya,” tambahnya.
Para orang tua menegaskan bahwa mereka tidak ingin proses pembelajaran terganggu akibat lemahnya kepemimpinan. Mereka berharap sekolah dapat berjalan secara optimal demi mendukung keberhasilan pendidikan dan masa depan siswa, yang tentunya sulit tercapai jika ketidakhadiran pimpinan sekolah terus terjadi tanpa kejelasan.(Tim Jabar)


