BERITA  

Kinerja Polres Disorot BADKO HMI SULSEL! Teror Busur di Maros Terus Terjadi, Lima Kasus Tanpa Satu pun Tersangka!

Kinerja Polres Disorot BADKO HMI SULSEL! Teror Busur di Maros Terus Terjadi, Lima Kasus Tanpa Satu pun Tersangka! | NEWS TV Indonesia
Kinerja Polres Disorot BADKO HMI SULSEL! Teror Busur di Maros Terus Terjadi, Lima Kasus Tanpa Satu pun Tersangka! | NEWS TV Indonesia

MAROS – Teror pembusuran terus merajalela di Kabupaten Maros. Ironisnya, dari lima insiden pembusuran yang terjadi sejak Maret hingga Mei 2025, belum satu pun pelaku berhasil diamankan oleh pihak kepolisian. Kondisi ini memicu kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk dari Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Sulawesi Selatan. Melalui Wakil Sekretaris Umum (Wasekum)-nya, Firman, BADKO HMI Sulsel menilai kinerja Polres Maros dalam menangani kasus pembusuran sangat mengecewakan.

“Kapolres Maros seharusnya mengambil langkah tegas. Ini sudah lima kasus, korbannya terus bertambah, tapi pelakunya masih ‘orang tak dikenal’. Sampai kapan?” tegas Firman, Senin (26/5/2025).

Firman juga menyoroti pendekatan penyelesaian damai atau restorative justice yang kerap diterapkan dalam kasus-kasus kriminalitas serupa. Menurutnya, pendekatan tersebut tidak tepat untuk tindak kekerasan yang nyata-nyata mengancam keselamatan masyarakat.

“Kalau pembusuran masih dianggap perkara kecil dan diselesaikan damai, ke depan bukan tak mungkin korban berikutnya jatuh. Ini bukan sekadar luka fisik, tapi soal rasa aman warga yang hilang,” jelasnya.

Ia menegaskan, jika Polres Maros tidak segera bertindak tegas, maka kepercayaan masyarakat terhadap aparat keamanan akan semakin menurun.

“Pasal 13 UU Polri sudah jelas, tugas Polri adalah memelihara keamanan, menegakkan hukum, dan melindungi masyarakat. Ini saatnya itu dibuktikan, bukan sekadar jadi slogan,” ujarnya.

Firman juga mendesak pemerintah daerah agar tidak tutup mata. Ia menyebut bahwa pembusuran bisa menjadi cerminan dari persoalan sosial yang lebih dalam, seperti kemiskinan, pengangguran, hingga krisis identitas remaja.

“Pemda harus hadir. Libatkan tokoh masyarakat, pemuda, dan semua pihak untuk mencegah aksi serupa terulang. Jangan tunggu jatuh korban jiwa baru semua bergerak,” tambah Firman.

Lima kasus pembusuran yang terjadi dalam dua bulan terakhir di antaranya: insiden di Jln. Damai Ongkoe, Desa Tellupoccoe, Kecamatan Marusu (1 Maret 2025) yang melukai seorang kepala dusun; dua kejadian pada 20 Maret 2025, masing-masing di Jl. Poros Makassar–Maros (Maccopa) yang menyasar petugas PMI, dan di depan Kantor Bola Sima, Pettuadae, yang melukai seorang remaja bernama Zakaria; kejadian penyerangan massal oleh sekitar 12 orang di Desa Tellupoccoe. Marusu, pada 4 April 2025 yang menyebabkan kerusakan kendaraan dan luka pada seorang warga; serta insiden terbaru pada 25 Mei 2025 di depan Perumahan Griya Maros Indah, Barambang, yang melukai pemuda bernama Ahmad Aidil Wahid.

Hingga kini, belum ada satu pun pelaku yang berhasil ditangkap. Warga semakin resah, dan desakan terhadap aparat penegak hukum serta pemerintah daerah untuk bertindak tegas terus menguat.

(Andi Mawang Batara Soli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *