ARSIP  

Mochtar Lubis dalam Sejarah Keberanian Pers Indonesia

Mochtar Lubis dalam Sejarah Keberanian Pers Indonesia

Padangsidimpuan, NEWSTV.ID – Dalam sejarah pers Indonesia, nama Mochtar Lubis berdiri sebagai simbol keberanian dan keteguhan nurani. Ia bukan sekadar wartawan atau sastrawan, melainkan suara yang menolak diam ketika kekuasaan menjauh dari kebenaran. Dalam hidup dan karyanya, pers bukan alat kompromi, melainkan jalan perlawanan intelektual.

Lahir di Padang, 7 Maret 1922, Mochtar Lubis berasal dari keluarga Batak Mandailing bermarga Lubis. Sejak muda, ia menunjukkan ketertarikan besar pada dunia gagasan, bahasa, dan kebebasan berpikir. Pendidikan awalnya ditempuh di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Sungai Penuh, Kerinci, sebelum melanjutkan ke Sekolah Ekonomi Partikelir di Kayutanam. Penguasaan bahasa asing—Inggris, Belanda, dan Jerman—membuatnya akrab dengan pemikiran global dan membentuk watak intelektualnya yang terbuka namun kritis.

Karier jurnalistik Mochtar Lubis dimulai sejak masa pendudukan Jepang. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, lalu mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya. Surat kabar ini dikenal berani, tajam, dan konsisten mengkritik penyimpangan kekuasaan. Sikap editorial tersebut membuatnya berhadapan langsung dengan penguasa.

Pada masa pemerintahan Soekarno, Mochtar Lubis dipenjarakan tanpa proses pengadilan hampir sembilan tahun. Penjara tidak membungkamnya. Sebaliknya, pengalaman itu mengasah ketajaman pikirannya tentang relasi kekuasaan, kebebasan, dan tanggung jawab intelektual. Refleksi tersebut kemudian terangkum dalam Catatan Subversif, sebuah kesaksian jujur tentang harga sebuah keberanian.

Tekanan tidak berhenti ketika rezim berganti. Pada era Soeharto, Mochtar kembali mengalami pemenjaraan. Perjalanan hidupnya menunjukkan satu pola berulang dalam sejarah Indonesia: kritik yang jujur sering kali dianggap ancaman, siapa pun yang berkuasa.

Selain wartawan, Mochtar Lubis adalah novelis penting Indonesia. Senja di Jakarta mencatat sejarah sebagai novel Indonesia pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Karya-karyanya—Jalan Tak Ada Ujung, Harimau! Harimau!, dan Maut dan Cinta—menggambarkan kegelisahan manusia Indonesia, krisis moral, serta problem kepemimpinan dengan bahasa yang jernih dan tajam.

Dalam pidato kebudayaannya di Taman Ismail Marzuki tahun 1977, yang kemudian dibukukan menjadi Manusia Indonesia, Mochtar Lubis mengajak bangsa ini bercermin. Ia berbicara tentang mentalitas, kelemahan, dan kontradiksi karakter nasional. Pandangannya menuai pujian sekaligus kontroversi, namun di situlah letak keberaniannya: menyampaikan kebenaran tanpa basa-basi.

Mochtar Lubis juga berperan penting dalam dunia kebudayaan. Ia turut mendirikan Majalah Horison, menjadi Presiden Press Foundation of Asia, serta ikut merintis Yayasan Obor Indonesia—lembaga yang hingga kini berkontribusi besar dalam penerbitan karya-karya intelektual bermutu.

Dedikasinya diakui dunia internasional dan nasional melalui berbagai penghargaan, antara lain Ramon Magsaysay Award, Golden Pen of Freedom, Bintang Mahaputra Utama, dan Bintang Budaya Parama Dharma.

Mochtar Lubis wafat di Jakarta, 2 Juli 2004. Namun pikirannya tidak pernah benar-benar pergi. Ia meninggalkan pesan yang tetap relevan bagi pers Indonesia hari ini: bahwa wartawan bukan alat kekuasaan, melainkan penjaga nurani publik.

Di tengah dunia yang kerap kompromistis, Mochtar Lubis mengajarkan satu hal yang sederhana namun mahal harganya—keberanian untuk tidak tunduk.

Oleh: Andi Hakim Nasution

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *