Newstv.id, Kulon Progo – Destinasi wisata sepanjang Kali Progo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo menjadi unggul dan menarik minat wisatawan karena ada perpaduan wisata arung jeram (Rafting) yang menantang dan sekarang Bendungan Ancol Jepang serta pemandangan alam perbukitan Menoreh.
Kawasan destinasi ini menawarkan perpaduan sport tourism, wisata sejarah dan sport santai seperti taman bantaran sungai. Nah, bicara wisata arung jeram, Sungai Progo ini satu-satunya lokasi favorit di wilayah DIY untuk arung jeram baik pemula maupun profesional.
Hanya saja, menjadi ironi karena destinasi wisata Kali Progo Kalibawang ini kini tercemar. Pasalnya, di kawasan sungai tersebut seperti di wilayah Desa Banjarharjo, terdapat kegiatan penambangan pasir.
Keberadaan aktivitas tambang pasir inilah memantik pihak Pengurus Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), melayangkan kritikan.
Tambang pasir di Kali Progo, Kalibawang dinilai telah merusak destinasi wisata unggulan Kali Progo. Termasuk destinasi wisata arung jeram karena aliran Sungai Progo yang semula favorit bagi arung jeram kini, mulai terusik karena aliran air di kali tersebut sudah tidak lagi maksimal karena terhalang galian tambang yang ada di sana.
“Kami dari FAJI DIY tentu menyayangkan adanya aktifitas tambang pasir di Kali Progo khususnya wilayah Kali Bawang. Karena kawasan ini destinasi wisata unggulan perpaduan Rafting yang menantang, Bendungan Ancol Jepang dan pemandangan alam perbukitan Menoreh yang asri,” kata Ketua Harian FAJI DIY, Mul Hendra ditemui Kali Bawang beberapa hari lalu.
Dikatakan oleh Hendra, Kali Progo, Kalibawang selain menjadi kegiatan Arung jeram para pemula. Setiap tahun juga digelar event bergengsi Arung jeram tingkat nasional. Belum lama ini, arung jeram tahunan juga sempat digelar dan bekerjasama dengan Pemkab Kulon Progo.
“Itu event ini digelar secara nasional dan diikuti dari enam provinsi di Indonesia meliputi Jawa Barat, DKI Jakarta, DIY, Jateng, Jatim dan Banten,” ujarnya.
Pada event nasional tersebut, dihadiri ratusan peserta dan sangat ironis karena peserta ini menyoroti keberadaan penambangan pasir di kali tersebut. Menurut peserta, Kali Progo yang dikenal masyarakat luar sebagai destinasi unggulan di sungai, terancam alih fungsi menjadi area pertambangan galian C.
“Mendapat kritikan ini, kami dari FAJI minta agar Kali Progo di wilayah Kali Bawang tidak ada aktifitas pertambangan jenis apapun baik tambang yang berizin ataupun yang ilegal karena merusak ekosistem wisata dan lingkungan kawasan kali,” tegas Hendra kepada media ini.
Hendra yang diamini warga masyarakat setempat mendesak Pemda DIY untuk mencabut perizinan penambangan di kawasan Kali Progo ini. Pasalnya, keberadaan tambang pasir di kali tersebut dengan dali normalisasi kali justru dinilai tak sejalan dengan estetika lingkungan dan tidak membawa dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat setempat dan UMKM.
Sementara itu, pantauan di lapangan, betul diketahui bahwa terdapat aktifitas penambangan pasir di Kali Progo, tepatnya Desa Banjarharjo, Kecamatan Kali Bawang. Penambangan di sana telah menggunakan alat berat jenis excavator. Kegiatan inilah yang menjadi sorotan karena penambangan tersebut berada di kawasan destinasi wisata unggulan Kali Progo. (HMI)












