Bandung Barat – Setiap pagi, anak-anak di Desa Ganjarsari, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat, memulai hari dengan rutinitas yang sama: berjalan kaki menyusuri jalanan terjal demi mencapai sekolah. Di balik semangat belajar tersebut, tersimpan harapan sederhana yang hingga kini belum terwujud, yakni dapat menikmati Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seperti yang telah dirasakan anak-anak di daerah lain, Selasa (16/12/2025).
Desa Ganjarsari merupakan wilayah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggi) yang berada di kawasan perbukitan. Akses menuju desa tersebut dikenal curam, terjal, dan mengalami kerusakan parah. Kondisi geografis ini menjadi kendala utama sehingga penyaluran Program MBG belum dapat menjangkau wilayah tersebut secara optimal.
Padahal, berdasarkan data pemerintah setempat, terdapat 1.521 anak dari 13 sekolah di Desa Ganjarsari yang sangat membutuhkan tambahan asupan gizi guna menunjang aktivitas belajar dan pertumbuhan mereka.
Kendala akses bukan sekadar asumsi. Pihak Kecamatan Cikalongwetan telah melakukan survei langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi medan yang harus dilalui. Perjalanan menuju desa memerlukan waktu cukup lama dengan tingkat risiko tinggi. Jalan rusak menyebabkan kendaraan harus melewati guncangan keras yang dikhawatirkan dapat merusak paket makanan sebelum sampai ke sekolah.
Kasi Trantibum Kecamatan Cikalongwetan, Pipin Irawan, mengaku prihatin setelah melihat langsung kondisi di lapangan.
“Kami turun langsung dan melihat sendiri betapa beratnya medan yang harus dilalui. Jika kendaraan MBG dipaksakan masuk, bukan hanya keselamatan pengemudi yang terancam, tetapi makanan bisa berantakan dan tidak layak konsumsi saat tiba di sekolah,” ujarnya.
Pipin menambahkan, akses jalan yang digunakan berada di kawasan PTPN VIII Pangheotan, sehingga diperlukan koordinasi lintas sektor untuk mencari solusi bersama, baik melalui penentuan jalur alternatif maupun upaya perbaikan infrastruktur jalan.
Sementara itu, di ruang-ruang kelas sederhana yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, anak-anak menyimpan harapan besar. Seorang siswa perwakilan sekolah di Desa Ganjarsari dengan polos menyampaikan keinginannya.
“Kami sering dengar ada makan bergizi gratis. Kami ingin juga merasakannya. Kalau sudah makan, kami jadi lebih semangat belajar,” tuturnya.
Bagi anak-anak Ganjarsari, makan bergizi bukan sekadar menu harian. Program tersebut menjadi bekal energi, meningkatkan konsentrasi belajar, serta menjaga semangat sekolah di tengah berbagai keterbatasan yang mereka hadapi.
Pemerintah desa dan kecamatan pun tidak tinggal diam. Kepala Desa Ganjarsari, Hasanuddin Bashori, terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak agar persoalan ini mendapat perhatian serius. Monitoring serta pendataan calon penerima MBG terus dilakukan sebagai bentuk kesiapan apabila akses penyaluran telah memungkinkan.
Dalam kegiatan tersebut, Kasi Trantibum Kecamatan Cikalongwetan Pipin Irawan beserta jajaran, bersama Ketua Forum Media Cikalongwetan Agus Suherman dan jajaran, turut mendampingi proses pendataan serta pelaporan kondisi faktual di lapangan.
Kehadiran media diharapkan mampu menyuarakan realitas yang dihadapi anak-anak di wilayah terpencil ini. Kecamatan Cikalongwetan berharap adanya langkah konkret dari instansi terkait, khususnya dalam perbaikan akses jalan yang menjadi hambatan utama. Dengan infrastruktur yang memadai, penyaluran Program Makan Bergizi Gratis diyakini dapat berjalan aman, layak, dan tepat sasaran.
Di Desa Ganjarsari, anak-anak masih setia menunggu. Di balik seragam sekolah sederhana dan langkah kaki di jalan terjal, mereka menyimpan mimpi yang sama: datangnya hari ketika makanan bergizi hadir di sekolah mereka, membawa harapan, kesehatan, dan masa depan yang lebih baik.


