Manajemen SMAN 1 Muntilan Bantah Siswanya Tak Lagi Sekolah Akibat Korban Bully

Manajemen SMAN 1 Muntilan Bantah Siswanya Tak Lagi Sekolah Akibat Korban Bully

Newstv.id, Magelang – Guru Bimbingan Konseling (BK) SMAN 1 Muntilan, Joko Pracoyo membantah jika di sekolahnya ada kasus perundungan (Bullying) terhadap siswa berinisial WCI kelas XI. Namun ia tidak menampik jika WCI sudah tidak masuk sekolah sejak Agustus 2025 lalu. 

 

“Kami luruskan berita yang muncul di media terkait siswa WCI yang diduga korban Perundungan sehingga tidak masuk sekolah. Setahu kami tidak ada itu Perundungan terhadap dia,” ujar Joko Pracoyo kepada jurnalis yang dihadiri Wali Kelas XI dan Wakasek Bidang Kesiswaan SMAN 1 Muntilan di ruang rapat sekolah, Senin (9/2/2026).

 

Sementara itu, Wali Kelas XI SMAN 1 Muntilan Joko Listiyoni mengungkapkan bahwa sejak WCI tidak masuk sekolah, pihak sekolah tidak berdiam diri. Karena itu, pihaknya berusaha menyurati orang tua WCI untuk datang ke sekolah dengan tujuan membicarakan masalah putranya yang tidak lagi masuk sekolah.

 

“Kita sudah undang orang tuanya tapi tidak datang. Akhirnya kami yang kunjungan ke rumah orang tua WCI karena kami ingin mengetahui pasti penyebab siswa kami ini tidak datang sekolah,” tegas Joko.

 

Diakui oleh Wali Kelas Joko, bahwa pihak sekolah datang langsung ke rumah orang tua WCI pada Agustus dan September 2025. Dalam pertemuan itu, ketemu langsung ibu dan ayah dari WCI. Selama pertemuan, pihaknya minta alasan WCI todak masuk sekolah. Namun sang ibu juga mengatakan tidak tahu pasti alasannya.

 

Terakhir bertemu dengar orang tua WCI di rumahnya Ponalan Baru, Desa Tamanagung, Muntilan di bula September lalu tak berselang lama di bulan sama orang tua WCI datang ke sekolah menyampaikan jika putranya minta mundur dari sekolah.

 

“Kita sudah undang datang ke sekolah. Suratnya Nomor : 400.3.8/901/2025 tertanggal 1 September 2025 perihal konfirmasi perkembangan belajar siswa. Ada juga kunjungan kami tanggal 2 September 2025 karena orang tua siswa tersebut tidak datang memenuhi panggilan pihak sekolah,” kata Walkes.

 

Wali Kelas XI Joko Listiyono juga membantah jika pihak sekolah tidak menemui orang tua WCI. Selama belum ada kepastian WCI memundurkan diri, justru pihak sekolah proaktif berkomunikasi dengan orang tua yang bersangkutan.

 

“Sejauh ini pihak sekolah tidak pernah lepas tangan akan kelanjutan pendidikan anak ini. Terakhir meski sudah tidak ikut proses belajar siswa WCI tetap difasilitasi menerima bantuan KIP,” timpal Guru BK.

 

Baik Wali Kelas XI dan Guru BK juga memberi opsi jika ingin pindah sekolah atau tetap ikut sekolah di SMAN 1 Muntilan mesti tidak ikut kegiatan ekstrakurikuler.

 

“Tapi kalau pindah ke SMK siswa ini akan memulai dari kelas pertama lagi karena ada perbedaan kurikulum SMA dengan SMK dan ketinggalan dia tahun. Beda jika pindah ke SMA ia hanya ketinggalan setahun karena masuknya nanti bersamaan tahun ajaran baru karena saat ini proses pembelajaran sudah berlangsung,” jelasnya.

 

Sementara itu, Wakasek Bidang Kesiswaan, Nur Rohman Widodo menambahkan jika pihak sekolah sudah menjalankan sesuai SOP. Karena itu, tidak benar jika orang tua WCI menyebut pihak sekolah tidak pernah datang ke rumah mereka.

 

Ia juga menegaskan kembali jika WCI bukan korban bully dan tidak pernah ada pemaksaan makan nasi lauk salak hingga menjalani perawatan medis di RSUD Muntilan. Namun jika ada siswa sakit, pihak sekolah tetap minta surat keterangan dokter dan itu berlaku untuk semua siswa.

 

“Orang tua WCI ini juga tidak pernah cerita atau kalau itu ke kami kalau putranya korban bully. Ibunya justru tidak tahu penyebab putranya tidak lagi sekolah,” tegas Wakasek Bidang Kesiswaan. (hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *