Newstv.id, Magelang – Seorang siswa di SMAN 1 Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah berinisial WCI, sejak Agustus 2025 lalu sudah tidak masuk sekolah. Padahal pria berusia 17 tahun ini memiliki prestasi akademik dan aktif kegiatan ekstrakulikuler salah satunya Paskibra.
Namun sayang, kini WCI ini tidak lagi terlihat di sekolah dan memilih todak masuk lantaran trauma dan takut bertemu rekannya dan seniornya di sekolah tersebut.
Ayah WCI bernama Supangat, menyebut putranya takut dan trauma masuk sekolah karena anak semata wayangnya itu mengaku di bullying (korban perundungan) sejumlah teman dan seniornya di sekolah.
“WCI ini sudah sejak Agustus 2025 itu tidak mau masuk sekolah. Sudah saya paksa, tetap tidak mau. Kelihatannya ada rasa ketakutan dan tidak mau bertemu dengan teman-temannya kalau ada yang datang ke rumah,” katanya saat ditemui di rumahnya, Ponakan Baru, Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Senin (9/2/2026).
Dikisahkan oleh Supangat, WCI awalnya tidak mau diajak bercerita tentang masalah yang dihadapinya. Ia bahkan ketakutan dan tampak trauma. Namun saat ini perlahan ia sudah bisa diajak bicara dan sempat menceritakan bahwa dirinya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya di sekolah.
“Ya, seniornya itu. Yang sering mengata-ngatai tak enak didengar. Dibilang fisik lembek lah, bagaimana mana mau masuk TNI atau Polisi kalau fisik lembek segala,” ujar Supangat mengutip pembicaraannya dengan WCI.
Sang ayah WCI juga mengakui jika putranya ini pernah dipaksa oleh seniornya di sekolah makan nasi lauk salak hingga sesak nafas. Pada kejadian itu, mengakibatkan WCI dilarikan ke RSUD Muntilan untuk menjalani perawatan medis.
Perlakuan-perlakuan seperti inilah yang diterima oleh WCI membuatnya tidak masuk sekolah karena takut.
Terkait persoalan yang dialami putranya, Supangat pun berusaha menemui gurunya. Namun pihak guru menyampaikan bahwa di sekolah tersebut tidak ada bullying. Sebanyak tiga kali orang tua WCI menemui gurunya untuk minta solusi agar putranya tetap kembali sekolah.
“Ya, saya toga kali datang ke sekolah menyampaikan masalah yang dihadapi WCI. Tapi pihak guru bilang disini tidak bullying. Yang ke tiga kalinya saya datang menyampaikan kalau anak saya sudah tidak masuk sekolah, tapi tetap tidak ada solusinya dan pihak guru pun tidak ada yang datang menemui anak saya di rumah,” jelas Supangat.
Supangat berharap, putranya ada solusi agar ia bisa kembali ke sekolah. Karena usianya masih sangat muda, sangat disayangkan jika putus sekolah. Jika pun putranya tidak bisa kembali sekolah di SMAN 1 Muntilan, setidaknya pihak sekolah bisa memberi surat pindah ke sekolah lain.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan Kepala SMAN 1 Muntilan belum berhasil di konfirmasi mengenai masalah ini. Namun pihak awak media Newstv.id tetap berusaha untuk konfirmasi. (hmi)











